<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>oliphoph™</title>
	<atom:link href="http://oliphoph.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://oliphoph.wordpress.com</link>
	<description>manis dan penuh warna</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 Feb 2012 02:48:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='oliphoph.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/7a5cb756859e755163b7ab7316f7480d?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>oliphoph™</title>
		<link>http://oliphoph.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://oliphoph.wordpress.com/osd.xml" title="oliphoph™" />
	<atom:link rel='hub' href='http://oliphoph.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Change in life</title>
		<link>http://oliphoph.wordpress.com/2012/02/17/change-in-life/</link>
		<comments>http://oliphoph.wordpress.com/2012/02/17/change-in-life/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Feb 2012 07:28:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oliph</dc:creator>
				<category><![CDATA[life]]></category>
		<category><![CDATA[buku rene cc]]></category>
		<category><![CDATA[change]]></category>
		<category><![CDATA[change in life]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[your job is not your career]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oliphoph.wordpress.com/?p=3230</guid>
		<description><![CDATA[Perubahan itu kadang memang tidak menyenangkan. Sebagian dari kita pasti kaget dan tidak siap menerima perubahan.  Bahkan respon terhadap perubahan-pun berbeda. Ada yang marah, ada yang pasrah, ada yang senang dan ada pula yang tertantang. Perubahan atau changes seringkali disinonimkan dengan ketidakpastian. Dan lagi, yang namanya ketidakpastian terkadang jauh dari kenyamanan.  Apakah itu perubahaan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oliphoph.wordpress.com&amp;blog=29531626&amp;post=3230&amp;subd=oliphoph&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/02/change-1.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-3231" title="change " src="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/02/change-1.jpg?w=350&#038;h=234" alt="" width="350" height="234" /></a></p>
<p>Perubahan itu kadang memang tidak menyenangkan. Sebagian dari kita pasti kaget dan tidak siap menerima perubahan.  Bahkan respon terhadap perubahan-pun berbeda. Ada yang marah, ada yang pasrah, ada yang senang dan ada pula yang tertantang.</p>
<p>Perubahan atau changes seringkali disinonimkan dengan ketidakpastian. Dan lagi, yang namanya ketidakpastian terkadang jauh dari kenyamanan.  Apakah itu perubahaan yang besar, kecil, diharapkan atau tidak, atau bahkan yang dikhawatirkan sekalipun. Changes telah, selalu dan akan terus terjadi. Apakah kita siap ataupun tidak siap, perubahan pasti terjadi.<span id="more-3230"></span></p>
<p>Ada beberapa tipe orang yang meresponi perubahan itu sendiri. Mereka yang marah terhadap perubahan seringkali terkait dengan hal-hal yang dinikmati selama ini. Mereka yang ada comfort zone dan tak ingin beranjak karena alasan tertentu . Biasanya ini agak sulit menerima perubahan.</p>
<p>Ada pula mereka yang memang mau berubah karena keterpaksaan. Mau tak mau harus berubah. Tapi ada pula yang dengan sadar memulai perubahaan. Mereka yang menolak untuk tidur dalam comfort zone. Changes atau perubahan adalah bagian dari dinamika hidup yang bukan hanya diterima tapi juga diperlakukan dan disyukuri sebagai proses menjadi manusia yang lebih baik lagi.</p>
<p>Kita adalah satu bagian kecil dari sebuah grand design yang bernama KEHIDUPAN. Selalu ada rencana besar melebihi dari yang dapat kita lihat. Perubahan adalah cara mencapai grand design kehidupan. Pahami tujuan dan peran kita. Tujuan terbaik adalah memberi kontribusi dan manfaat semaksimal mungkin bagi orang lain dan lingkungan sekitar kita. Pernah terbaik adalah yang sesuai dengan passion kita.</p>
<p>Albert Einstein bilang <em>“ I shall never believe that God plays dice with the world”</em> , Tuhan tidak sedang bermain dadu dan “mempermainkan” kita. Dia punya rencana yang indah buat hidup kita. Siapkah kita berubah?</p>
<p>Karena salah satu ciri hidup adalah tumbuh dan berkembang. Tanda kita bertumbuh dan berkembang, tentunya ada perubahan, betul??</p>
<p>Saya siap berubah, bagaimana dengan Anda?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>*diambil dari salah satu bab di buku-nya om Rene CC, ur job is not ur career </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oliphoph.wordpress.com/3230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oliphoph.wordpress.com/3230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oliphoph.wordpress.com/3230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oliphoph.wordpress.com/3230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/oliphoph.wordpress.com/3230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/oliphoph.wordpress.com/3230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/oliphoph.wordpress.com/3230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/oliphoph.wordpress.com/3230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oliphoph.wordpress.com/3230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oliphoph.wordpress.com/3230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oliphoph.wordpress.com/3230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oliphoph.wordpress.com/3230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oliphoph.wordpress.com/3230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oliphoph.wordpress.com/3230/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oliphoph.wordpress.com&amp;blog=29531626&amp;post=3230&amp;subd=oliphoph&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oliphoph.wordpress.com/2012/02/17/change-in-life/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/085857dd7ae9749293d4268591b580d9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">oliphoph</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/02/change-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">change </media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kenikmatan Cinta **</title>
		<link>http://oliphoph.wordpress.com/2012/02/10/kenikmatan-cinta/</link>
		<comments>http://oliphoph.wordpress.com/2012/02/10/kenikmatan-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Feb 2012 09:53:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oliph</dc:creator>
				<category><![CDATA[CeritaCerita]]></category>
		<category><![CDATA[#FlashFiction]]></category>
		<category><![CDATA[Ambrosia]]></category>
		<category><![CDATA[Buah Khuldi]]></category>
		<category><![CDATA[kontes #FF]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oliphoph.wordpress.com/?p=3223</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang bilang, buah khuldi itu dimakan oleh Hawa bukan Adam, tapi keduanya jatuh dalam dosa bersama-sama. Aku tak tahu mana yang benar. Dari kecil aku mendengar banyak cerita tentang surga, termasuk buah khuldi itu. Tapi tak pernah sekalipun aku mengerti apa itu surga. Umurku baru 6 tahun kala itu. Ibuku berpesan padaku “ jangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oliphoph.wordpress.com&amp;blog=29531626&amp;post=3223&amp;subd=oliphoph&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/02/buah-khuldi.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3224" title="buah khuldi" src="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/02/buah-khuldi.jpg?w=610" alt=""   /></a></p>
<p>Ada yang bilang, buah khuldi itu dimakan oleh Hawa bukan Adam, tapi keduanya jatuh dalam dosa bersama-sama. Aku tak tahu mana yang benar. Dari kecil aku mendengar banyak cerita tentang surga, termasuk buah khuldi itu. Tapi tak pernah sekalipun aku mengerti apa itu surga. Umurku baru 6 tahun kala itu. Ibuku berpesan padaku “ jangan nakal, nanti masuk neraka”. Untuk anak sekecilku, pengertian surga-neraka masih sangat sulit kupahami. Sekarang? Akupun tak pernah mau berurusan dengan surga dan neraka. Hidupku bagiku adalah di dunia, bukan di surga atau neraka yang kata orang adalah perhentian terakhir manusia. Atau  justru sebaliknya, kehidupan yang sesungguhnya itu ada di surga. Entahlah!!</p>
<p>Bukan  aku tak peduli surga atau neraka. Yang lebih kupedulikan sekarang adalah hidupku di dunia saat ini. Bisakah aku tetap produktif? Bisakah aku berkontribusi dan bermanfaat untuk orang lain? Selama di dunia loh ya…bukan di surga.<span id="more-3223"></span></p>
<p>Ibuku berkata, “ kalau mau masuk surga, jangan berbuat dosa” .Masih kuingat betul perkataannya. Jangan berbuat dosa, maka niscaya kamu masuk surga. Ah…itu hanya fatwaku, bukan dari ibuku, bukan pula dari ajaran agamaku atau agamamu. Itu adalah buah pemikiranku, sejak aku berumur 6 tahun, sekitar 26 tahun yang lalu.</p>
<p>Dosa, adalah hal yang paling menakutkan untuk dilakukan, terlebih untuk manusia suci seperti suamiku ini. Hariadi namanya. Kami sudah menikah lebih dari 7 tahun. Dia termasuk orang yang taat beragama , sabar dan jujur. Itulah kenapa aku lebih memilih Hariadi ketimbang Santoso. Keduanya pria baik dimataku, tapi kata Ibuku, Hariadi jauh lebih baik. Disaat memilih adalah keputusan yang sulit, maka Ibu adalah satu-satunya orang yang kupercaya untuk memberikan pilihan kepadaku.</p>
<p>Menjalani kehidupan rumah tangga dengan suami yang baik seperti Hariadi itu kurang tantangan, menurutku. Semuanya datar dan ujungnya membosankan. Tanpa sepengetahuannya, dua tahun ini aku berselingkuh dengan Santoso, mantan pacar yang tak kunikahi. Dua tahun menjalani hubungan terlarang ini, Hariadi tak sedikitpun curiga kepadaku. Semuanya baik-baik saja. Hingga suatu hari, saat aku pulang dari rumah orang tuaku di Solo, aku terkejut mendapati Hariadi dan Santoso sedang berduaan di rumahku, tepatnya di peraduanku. Tempat paling intim bagiku dan Hariadi.</p>
<p>Meskipun Hariadi termasuk pria yang taat beragama, sabar dan jujur, dimataku dia adalah pria yang menjijikan. Dengan segala kebaikannya yang dia pernah lakukan kepadaku, hal inilah yang paling menjijikan di mataku. Bagaimana tidak, orang yang selama ini kuanggap paling suci dan takut berbuat dosa, justru sedang berbuat zina didepan mataku. Dengan selingkuhanku??</p>
<p>Gila!!</p>
<p>“Apa-apaan ini!! Pergi kamu dari rumahku!!” teriaku pada Santoso</p>
<p>Ia pergi meninggalkan aku dan Hariadi. Mengambil kemeja yang jatuh disudut kamar tidurku.</p>
<p>“Maafkan aku Nik, aku khilaf…” kata Hariadi .</p>
<p>“Persetan!! Aku tak peduli…..ceraikan aku saat ini juga!!” aku mengambil <em>travel bag</em> diatas lemari, berniat pergi meninggalkan rumah ini secepatnya. Aku jijik dan tak sudi tidur di ranjang ini lagi.</p>
<p>**</p>
<p>“Aku tak bermaksud seperti itu Nik, dengar dulu ceritaku” kata Hariadi malam itu. Dia datang mengunjungiku setelah seminggu lebih aku tak berkomunikasi dengannya. Yang kuingat hanya perbuatannya dengan Santoso kala itu.</p>
<p>Kutolehkan wajahku, menjauhi pandangan matanya yang memohon belas kasihan dariku. Tanpa mendapatkan ijin dariku, iapun bercerita kronologis kejadian yang menusuk hatiku.</p>
<p>“Aku tahu perselingkuhanmu dengan Santoso” kata Hariadi. Terkejut aku mendengar pengakuannya, tapi tetap kukuasai diriku untuk tetap mendengarkan ceritanya.</p>
<p>“Diamku bukan berarti aku menyetujui perselingkuhamu itu, Nik. Aku diam karena aku ingin berbuat sesuatu untukmu. Melepasmu dari lingkaran setan ini. Beberapa kali aku menghubungi Santoso. Bukan niat baik yang kudapatkan tapi malah ancaman akan membeberkan perselingkuhan ini ke orang-orang. Demi menjaga nama baikmu dan keluarga kita, aku mencoba membujuk  Santoso untuk menjauhimu. Bukannya terbujuk, malah aku yang dirayu-nya. Dia akan meninggalkanmu bila aku mau bersetubuh dengannya. Maka, saat kamu pulang ke Solo , aku mengiyakan tawaran Santoso. Hari itu aku bersetubuh dengannya, dengan harapan dia akan meninggalkanmu selamanya. Dan kita bahagia dengan pernikahan kita, Nik” kata Hariadi sambil mencoba menyentuh lenganku. Aku <em>shock</em> mendengar pengakuannya. Bagiku, ini terlalu rumit untuk dipikirkan</p>
<p>Aku pergi menjauhi Hariadi, berlari meninggalkannya sekaligus lari dari kenyataan bahwa sesungguhnya Hariadi mencintaiku melebihi cintaku pada Santoso.</p>
<p>Dan sekarang, aku tak tahu harus bagaimana lagi.</p>
<p>Dalam lamunanku malam itu, kembali aku teringat cerita ibuku tentang buah Khuldi. Akulah yang mengambil buah itu, tapi akibatnya? Hariadi ikut merasakan dosa dari buah yang kumakan.</p>
<p>Hariadi, maafkan aku.</p>
<p>** Cerita di atas hanya sekedar fiksi belaka, ditulis dalam rangka meramaikan <a href="http://wp.me/pUmCI-pF" target="_blank">Kontes Flashfiction Ambrosia</a> yang diselenggarakan<a href="http://pagi2buta.wordpress.com/" target="_blank"> Dunia Pagi </a>dan <a href="http://lulabipenghitamlangit.blogspot.com/" target="_blank">Lulabi Penghitam Langit.</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oliphoph.wordpress.com/3223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oliphoph.wordpress.com/3223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oliphoph.wordpress.com/3223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oliphoph.wordpress.com/3223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/oliphoph.wordpress.com/3223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/oliphoph.wordpress.com/3223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/oliphoph.wordpress.com/3223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/oliphoph.wordpress.com/3223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oliphoph.wordpress.com/3223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oliphoph.wordpress.com/3223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oliphoph.wordpress.com/3223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oliphoph.wordpress.com/3223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oliphoph.wordpress.com/3223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oliphoph.wordpress.com/3223/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oliphoph.wordpress.com&amp;blog=29531626&amp;post=3223&amp;subd=oliphoph&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oliphoph.wordpress.com/2012/02/10/kenikmatan-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/085857dd7ae9749293d4268591b580d9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">oliphoph</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/02/buah-khuldi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">buah khuldi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apa sih Public Speaking itu??</title>
		<link>http://oliphoph.wordpress.com/2012/02/06/apa-sih-public-speaking-itu/</link>
		<comments>http://oliphoph.wordpress.com/2012/02/06/apa-sih-public-speaking-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 07:11:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oliph</dc:creator>
				<category><![CDATA[Public Speaking]]></category>
		<category><![CDATA[definisi Public Speaking]]></category>
		<category><![CDATA[tentang Public Speaking]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oliphoph.wordpress.com/?p=3217</guid>
		<description><![CDATA[masih ya, soal Public Speaking sambil ngedit sambil baca-baca, sambil mosting&#8230;*hehehe* &#160; Banyak yang sudah mendefinisikan apa itu Public Speaking itu. Mulai dari yang “berbicara di depan umum”, “seni berbicara/berkomunikasi untuk mempengaruhi audience atau khalayak” dan lain sebagainya.  Namun berbagai macam definisi mengenai Public Speaking , bila dirangkum menjadi satu intinya hanya satu. Berbicara di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oliphoph.wordpress.com&amp;blog=29531626&amp;post=3217&amp;subd=oliphoph&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/02/overcome-public-speaking-fear.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-3218" title="overcome public speaking fear" src="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/02/overcome-public-speaking-fear.jpg?w=383&#038;h=254" alt="" width="383" height="254" /></a></p>
<p><em>masih ya, soal Public Speaking <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  sambil ngedit sambil baca-baca, sambil mosting&#8230;*hehehe*</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Banyak yang sudah mendefinisikan apa itu <em>Public Speaking</em> itu. Mulai dari yang “berbicara di depan umum”, “seni berbicara/berkomunikasi untuk mempengaruhi audience atau khalayak” dan lain sebagainya.  Namun berbagai macam definisi mengenai <em>Public Speaking</em> , bila dirangkum menjadi satu intinya hanya satu. Berbicara di depan umum. Dan inilah yang membedakan antara <em>“talk”</em> dan <em>“speak”. </em>Dalam bahasa Indonesia , keduanya mempunyai arti yang sama, yaitu berbicara. Hanya saja, kalo <em>“talk”</em> itu tak perlu dipelajari secara khusus , kecuali kalo kita mempunyai gangguan dalam berbicara. Berbicara <em>(talk)</em> ini sudah bisa kita lakukan sejak kita usia kurang lebih 1 tahun. Entah itu hanya berkata “ma..ma..ma..” “papa..paa.” “maam..maam” dan lain sebagainya. Ini adalah salah satu kemampuan kita berbicara <em>(talk). </em>Lain lagi dengan berbicara <em>(speak).</em> Yang memang butuh latihan untuk melakukannya karena tujuannya adalah (salah satunya) mewujudkan tujuan komunikasi. Tujuan komunikasi itu macam-macam, untuk mempengaruhi orang lain, menghibur, menyampaikan pendapat, mengajar, memberikan informasi, merubah pendapat orang lain, dan sebagainya.</p>
<p><span id="more-3217"></span></p>
<p><em>Public Speaking</em> atau berbicara di depan umum ini sebenernya ngga butuh bakat khusus. Kalau dianalogikan, belajar <em>public speaking</em> itu seperti belajar naik sepeda. Ngga ada orang yang begitu lahir langsung bisa naik sepeda. Perlu ada latihan yang teratur dan tekun supaya seseorang bisa naik sepeda. Lalu bagaimana pandangan orang mengenai “public speaking” itu bakat, jadi percuma. Belajar sampai berbusa-busa saja gak akan bisa. Ah, memang ada sebagian yang berbakat “ngomong lancar” atau “ceriwis” atau apalah itu. Sehingga ia dengan muda menjadi pembicara karena emang bakat dari sono-nya. Eiiits, tapi gak usah sedih. Yang merasa “tidak berbakat”pun bisa tetap menjadi pembicara yang luar biasa asal mau latihan. Apaaa??? Coba baca lebih keras lagi. LA TI HAN.</p>
<p>Apa yang membedakan?? Orang yang berbakat juga tetap harus latihan. Sebab kalau tidak nanti akan ketinggalan dengan orang yang tidak berbakat namun rajin latihan. Orang yang berbakat mungkin latihan satu dua kali langsung bisa, nah kalo orang yang ngga berbakat mungkin butuh empat kali baru bisa. Jadi Bakat atau Latihan keduanya sama-sama perlu latihan untuk menjaga kualitas tetap terjaga.</p>
<p>Nah, ini nih yang kadang sering terjadi. Selalu menolak tampil bila ada kesempatan untuk menjadi ajang “latihan” menjadi public speaker/pembicara. Disuruh maju untuk presentasi, gak mau. Disuruh nanya, gak mau. Disuruh MC acara ini itu, gak mau. Nah gimana mau latihan?? Apa iya cukup puas latihan di dalam kamar dan di depan kaca ajah? Saya menyebut mereka yang “pemalu” ini adalah orang-orang tipe KELINCI. Kalo di deketin, ngumpet. Suruh gerak sedikit, ngumpet. Mereka yang suka menolak kesempatan untuk tampil , sejatinya adalah mereka yang merugi. #halah. Maksud saya, rugi loh kalo kesempatan untuk tampil itu ditolak. Justru kalo bisa malah mencari kesempatan tersebut. Kenapa? Salah satunya untuk ajang kita latihan.</p>
<p>Seorang guru kungfu begitu ahli dan mahir bermain kungfu. Suatu hari datang seorang anak yang juga ingin belajar kungfu. Guru ini menerima ia menjadi muridnya. Setelah ngobrol ngalur ngidul ngulon ngetan, sang guru memberikan dia sedikit teori dan buku tentang kungfu. Sang murid membaca habis buku itu. Lalu ketika ia selesai membaca buku kungfu itu, ia menghadap guru-nya dan berkata “aku telah habis membaca buku ini, maka akupun mahir dan ahli bermain kungfu”. Gurunya hanya tertawa……<strong>Bagaimana seorang murid bisa dikatakan ahli dan mahir bermain kungfu hanya karena telah habis membaca buku kungfu?</strong>?? Praktek. Itu penting. Gerakan-gerakan kungfu ini memang telah kau pelajari, tapi bila kau tak mempraktekannya, maka apalah gunanya? “jawab guru tersebut.</p>
<p>Jadi, sama hal nya dengan <em>public speaking</em> ini. Kalian boleh baca banyak buku, boleh datang ke kursus atau pelatihan tentang <em>public speaking</em>. Tapi kalo ngga pernah<strong> praktek</strong>, ya buat apa?? Sia-sia!!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><em>Meskipun anda tidak berbakat, tapi bila anda rajin latihan, anda pasti bisa!!</em></p>
<p align="center"><em>Jangan menolak kesempatan yang datang, cari kesempatan itu, atau ciptakan kesempatan untuk anda berlatih dan meningkatkan rasa percaya diri anda.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oliphoph.wordpress.com/3217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oliphoph.wordpress.com/3217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oliphoph.wordpress.com/3217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oliphoph.wordpress.com/3217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/oliphoph.wordpress.com/3217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/oliphoph.wordpress.com/3217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/oliphoph.wordpress.com/3217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/oliphoph.wordpress.com/3217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oliphoph.wordpress.com/3217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oliphoph.wordpress.com/3217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oliphoph.wordpress.com/3217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oliphoph.wordpress.com/3217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oliphoph.wordpress.com/3217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oliphoph.wordpress.com/3217/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oliphoph.wordpress.com&amp;blog=29531626&amp;post=3217&amp;subd=oliphoph&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oliphoph.wordpress.com/2012/02/06/apa-sih-public-speaking-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/085857dd7ae9749293d4268591b580d9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">oliphoph</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/02/overcome-public-speaking-fear.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">overcome public speaking fear</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengatasi Rasa Malu</title>
		<link>http://oliphoph.wordpress.com/2012/02/03/mengatasi-rasa-malu/</link>
		<comments>http://oliphoph.wordpress.com/2012/02/03/mengatasi-rasa-malu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 10:06:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oliph</dc:creator>
				<category><![CDATA[Public Speaking]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana menghilangkan rasa malu]]></category>
		<category><![CDATA[malu]]></category>
		<category><![CDATA[mengatasi rasa malu]]></category>
		<category><![CDATA[mengurangi rasa malu]]></category>
		<category><![CDATA[rasa malu]]></category>
		<category><![CDATA[tips mengatasi rasa malu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oliphoph.wordpress.com/?p=3213</guid>
		<description><![CDATA[*masih posting tentang Public Speaking* Setali tiga uang dengan takut, malu juga merupakan kendalan seseorang untuk tampil di depan umum. Sama halnya dengan rasa takut, rasa malu adalah kondisi antroplogis yang sangat erat dengan manusia. Bahkan saking eratnya, ada juga beberapa orang yang tidak mudah terbebas dari rasa malu. Memang benar, untuk mengatasi rasa malu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oliphoph.wordpress.com&amp;blog=29531626&amp;post=3213&amp;subd=oliphoph&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/02/shamed.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3214" title="shamed" src="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/02/shamed.jpg?w=610" alt=""   /></a></p>
<p><em>*masih posting tentang Public Speaking*</em></p>
<p>Setali tiga uang dengan takut, malu juga merupakan kendalan seseorang untuk tampil di depan umum. Sama halnya dengan rasa takut, rasa malu adalah kondisi antroplogis yang sangat erat dengan manusia. Bahkan saking eratnya, ada juga beberapa orang yang tidak mudah terbebas dari rasa malu. Memang benar, untuk mengatasi rasa malu dan takut itu butuh kemauan. Apalagi kedua rasa ini (malu dan takut) berdampak pada kepercayaan diri seseorang.</p>
<p>Untuk soal <em>public speaking </em>atau berbicara di depan umum ini, rasa malu kerap kali menghantui seseorang. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah <strong>persiapkan diri kita.</strong> Kalau kita tidak ingin malu di depan banyak orang, siapkan diri kita. Apakah itu mengenai materi bicara sampai soal penampilan.<span id="more-3213"></span></p>
<p>Bila ingin tampil sebagai pembicara atau MC , persiapkan diri sebelumnya. Pahami apa yang ingin kita katakana, atau bila anda ditunjuk sebagai MC, pahami susunan acara yang nanti akan dibawakan. <em>“a good conversationalist is always prepared with topics of conversation”</em> . Selalu persiapkan apa yang ingin kita bicarakan.</p>
<p><strong>Fokus</strong> pada apa yang ingin kita sampaikan, itu penting. Penting juga untuk fokus pada sesuatu yang mungkin menjadi kelemahan kita. Misalnya bila kita tidak mau malu karena salah menjawab pertanyaan orang, fokuslah pada pertanyaannya. Pada apa yang orang katakan. Dan bila mana memang kita tidak bisa menjawab pertanyaan yang ada, cobalah untuk jujur dan katakan bahwa pertanyaan tersebut masih perlu untuk dipelajari lagi. Nah bila memang penampilan bisa membantu kita mengatasi rasa malu kita, kenapa tidak kita fokus pada penampilan kita. Buat supaya diri kita percaya diri.</p>
<p>Mengapa orang mudah malu? Karena orang terbenam dengan pandangannya tentang dirinya sendiri. Pandangan tentang dirinya yang selalu “kurang” di depan orang lain. Pandangan tentang diri yang “ngga bisa apa-apa” . Apakah kita berpikir bahwa orang lain selalu “lebih” daripada kita?  Nah ini nih yang kadang bikin kita keder. Ternyata ada yang namanya incommensurability. Sebuah ketakterukuran. Artinya, <strong>tak semua orang bisa diukur dengan ukuran yang sama</strong>. Masing-masing orang punya partikularitas atau ke khas-annya masing-masing.</p>
<p>Jadi, tenang….bisa jadi mungkin aku gak pandai berbahasa Inggris, tapi kan aku bisa nyanyi? *hehehe* begitulah.</p>
<p>Ada sebbuah adagium Latin yang  pas buat kita. <em>Guta cavat lapidem non vi sed saepe cadendo</em>, artinyaa <strong>titik air melubangi batu bukan karena kekuatannya, tapi karena sering jatuh. Tekananya adalah pada kata “sering</strong>”. Dan ini soal frekuensi dan intensitas. Bagaimana mungkin kita bisa hebat berbicara didepan orang banyak, dan tidak malu menghadapi orang lain kalau kita tidak sering berlatih berbicara dan menghadapi orang lain? Caranya hanya satu, sering berlatih . Iya, sering dan sering. Kalau sudah demikian, sesungguhnya pelan-pelan kita sedang “membunuh” rasa malu kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oliphoph.wordpress.com/3213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oliphoph.wordpress.com/3213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oliphoph.wordpress.com/3213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oliphoph.wordpress.com/3213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/oliphoph.wordpress.com/3213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/oliphoph.wordpress.com/3213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/oliphoph.wordpress.com/3213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/oliphoph.wordpress.com/3213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oliphoph.wordpress.com/3213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oliphoph.wordpress.com/3213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oliphoph.wordpress.com/3213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oliphoph.wordpress.com/3213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oliphoph.wordpress.com/3213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oliphoph.wordpress.com/3213/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oliphoph.wordpress.com&amp;blog=29531626&amp;post=3213&amp;subd=oliphoph&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oliphoph.wordpress.com/2012/02/03/mengatasi-rasa-malu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/085857dd7ae9749293d4268591b580d9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">oliphoph</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/02/shamed.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">shamed</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengatasi Rasa Takut</title>
		<link>http://oliphoph.wordpress.com/2012/02/03/mengatasi-rasa-takut/</link>
		<comments>http://oliphoph.wordpress.com/2012/02/03/mengatasi-rasa-takut/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 01:38:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oliph</dc:creator>
				<category><![CDATA[Public Speaking]]></category>
		<category><![CDATA[mengatasi rasa takut]]></category>
		<category><![CDATA[public speaking]]></category>
		<category><![CDATA[rasa takut]]></category>
		<category><![CDATA[takut berbicara di depan publik]]></category>
		<category><![CDATA[tentang rasa takut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oliphoph.wordpress.com/?p=3208</guid>
		<description><![CDATA[*ini adalah serangkaian tulisan saya tentang Public Speaking* Selalu ada yang namanya pengalaman pertama. Betul? Pengalaman pertama sekolah, pengalaman pertama kerja di luar kota, pengalaman pertama ngekost, pengalaman pertama punya anak, pengalaman pertama jalan-jalan ke Paris, dll. Betul? Rasanya gimana? Ada gugupnya, ada takutnya. Iya kan?? Rasa gugup atau takut itu sebetulnya adalah “naturals calls”. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oliphoph.wordpress.com&amp;blog=29531626&amp;post=3208&amp;subd=oliphoph&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/02/fear.gif"><img class="aligncenter  wp-image-3209" title="fear" src="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/02/fear.gif?w=427&#038;h=328" alt="" width="427" height="328" /></a></p>
<p><em>*ini adalah serangkaian tulisan saya tentang Public Speaking*</em></p>
<p>Selalu ada yang namanya pengalaman pertama. Betul? Pengalaman pertama sekolah, pengalaman pertama kerja di luar kota, pengalaman pertama ngekost, pengalaman pertama punya anak, pengalaman pertama jalan-jalan ke Paris, dll. Betul? Rasanya gimana? Ada gugupnya, ada takutnya. Iya kan??</p>
<p>Rasa gugup atau takut itu sebetulnya adalah “<em>naturals calls”.</em> Sama dengan rasa lapar, rasa haus ataupun rasa mengantuk. Sesungguhnya tidak ada obat khusus untuk mengatasi <em>“naturals calls”</em> itu  Hanya saja, seperti rasa lapar, haus dan ngantuk itu akan menjadi sesuatu yang normal kalau kita bisa me-<em>manage</em>-nya dengan baik. Kan ngga mungkin gitu, kita asal makan kalo toh nyatanya kita lagi puasa. Kita bisa tahan kan sampai Maghrib nanti? Atau pada saat ada kuliah, di depan dosen <em>killer</em>, meskipun ngantuk berat, tapi kita bisa kan mengendalikan diri kita supaya ngga tertidur di kelasnya?<span id="more-3208"></span></p>
<p>Rasa gugup dan takut itu sebenernya penting untuk modal mawas diri kita. Jadi tenang saja, gugup dan takut itu, manusiawi kok.</p>
<p>Keberanian muncul sebenernya bukan karena tidak adanya rasa takut. Tapi keberanian itu muncul karena adanya kemampuan kita mengelola rasa takut. Terlebih dalam <em>public speaking/</em>MC. Ada atribut yang menempel pada diri mereka sehingga kita menjadi takut.</p>
<p>Ohh..yang namanya MC itu harus cantik, ganteng, pinter, wawasannya luas, suaranya bagus, dll. Nah atribut inilah yang seringkali menjadi “momok” untuk mereka yang ingin belajar menjadi MC. Sepandai dan setenar apapun para MC atau pembicara , mereka tidak bisa tampil secara optimal kalo tidak ada persiapan. Saya sering membaca juga, bahwa mereka yang sudah sering tampil di TV pun juga masih sering nervous kok. Jadi tenang saja. Saya-pun demikian. Masih suka gugup dan takut. J <em>*pengakuan*</em></p>
<p>Lalu bagaimana caranya <strong>menghilangkan rasa takut itu</strong>?? <strong>Cobalah jujur dengan diri</strong> sendiri. Mengakui bahwa sejatinya kita “takut” atau “gugup”. Bilang saja ke diri kita sendiri “ ih…aku deg-degan deh’ , sedikit banyak membantu kok.</p>
<p>Kemudian, cara selanjutnya adalah belajar <strong>teknik relaksasi.</strong> Misalnya tarik nafas panjang, latihan vokal “<em>a..i..u..e..o”,</em> <strong>senam muka,</strong> <strong>minum air putih</strong>. Ehiya, <strong>berbagi dengan teman </strong>juga bisa loh menghilangkan rasa takut. Curcol sebentar ke mereka , setidaknya bisa meringkankan bebanmu.</p>
<p><strong>Berdoa </strong>juga cara ampuh untuk menghilangkan rasa takut kita, pleeeeesss, hehehe…mau gak mau, rela gak rela, sanggup gak sanggup kita harus <strong>HADAPI rasa takut itu.</strong></p>
<p>Jangan pernah terbelenggu dengan rasa takut kita, sebab rasa takut itu membelenggu kita. Membuat kita jauh dari mimpi-mimpi kita. Bahkan rasa takut itu menekan kemampuan diri kita, yang akhirnya justru membuat kita gak bergerak maju lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oliphoph.wordpress.com/3208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oliphoph.wordpress.com/3208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oliphoph.wordpress.com/3208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oliphoph.wordpress.com/3208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/oliphoph.wordpress.com/3208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/oliphoph.wordpress.com/3208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/oliphoph.wordpress.com/3208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/oliphoph.wordpress.com/3208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oliphoph.wordpress.com/3208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oliphoph.wordpress.com/3208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oliphoph.wordpress.com/3208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oliphoph.wordpress.com/3208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oliphoph.wordpress.com/3208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oliphoph.wordpress.com/3208/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oliphoph.wordpress.com&amp;blog=29531626&amp;post=3208&amp;subd=oliphoph&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oliphoph.wordpress.com/2012/02/03/mengatasi-rasa-takut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/085857dd7ae9749293d4268591b580d9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">oliphoph</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/02/fear.gif" medium="image">
			<media:title type="html">fear</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Percaya Diri</title>
		<link>http://oliphoph.wordpress.com/2012/02/02/tentang-percaya-diri/</link>
		<comments>http://oliphoph.wordpress.com/2012/02/02/tentang-percaya-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 02:09:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oliph</dc:creator>
				<category><![CDATA[Public Speaking]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana supaya percaya diri]]></category>
		<category><![CDATA[brian roet]]></category>
		<category><![CDATA[mempertahankan percaya diri]]></category>
		<category><![CDATA[menaikkan rasa percaya diri]]></category>
		<category><![CDATA[percaya diri]]></category>
		<category><![CDATA[tips percaya diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oliphoph.wordpress.com/?p=3204</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini diterbitkan dalam rangka mengedit beberapa materi yang biasa saya sampaikan di kelas Public Speaking. Buka-buka folder dan menemukan artikel ini sebagai materi ngajar. Entahlah, dari awal ketika saya diperbantukan menjadi pengajar ekskul MC dan Public Speaking, masalah yang paling besar dan yang paling sering dialami mahasiswa yang ikut kelas saya adalah kurangnya rasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oliphoph.wordpress.com&amp;blog=29531626&amp;post=3204&amp;subd=oliphoph&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><a href="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/02/confidence.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3205" title="Confidence" src="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/02/confidence.jpg?w=610&#038;h=241" alt="" width="610" height="241" /></a></p>
<p align="left">Tulisan ini diterbitkan dalam rangka mengedit beberapa materi yang biasa saya sampaikan di kelas Public Speaking. Buka-buka folder dan menemukan artikel ini sebagai materi ngajar. Entahlah, dari awal ketika saya diperbantukan menjadi pengajar ekskul MC dan Public Speaking, masalah yang paling besar dan yang paling sering dialami mahasiswa yang ikut kelas saya adalah kurangnya rasa percaya diri mereka. Segala macam teori dan buku tentang Public Speaking bisa didapatkan dimana-mana. Hanya saja untuk “praktek” kendala terbesarnya adalah kurangnya rasa PD.</p>
<p align="left">Dan kali ini, berdasarkan dari hasil searching sana sini, inilah sedikit rangkuman bagaimana kita bisa menaikkan sekaligus mempertahankan rasa percaya diri kita.</p>
<p align="left"><span id="more-3204"></span></p>
<p align="left">Dr Brian Roet, dalam bukunya &#8220;<em>The Confidence To Be Yourself</em>&#8220;, mengungkapkan tiga poin penting, yang perlu Anda kuasai untuk bisa selalu menaikkan dan mempertahankan rasa percaya diri, yaitu:</p>
<p><strong>1. Know your self<br />
2. Like your self<br />
3. Accept your self</strong></p>
<p><strong>Temukanlah</strong> jawaban dan <strong>jawab</strong> sesegera mungkin dan sesering mungkin rentetan pertanyaan berikut ini. Jawablah dengan <strong>pikiran jernih, kesadaran penuh, dengan hati nurani</strong>. Jawablah dengan <strong>idealisme</strong> Anda setinggi mungkin.</p>
<p><strong>1. KNOW YOUR SELF</strong></p>
<p><em>Siapa sih Anda?<br />
Secara personality, Anda termasuk tipe manusia apa?<br />
Faktor apa yang paling dominan dalam personality Anda itu?<br />
Apa yang sangat memotivasi Anda?<br />
Apa yang membuat Anda sedih atau tidak berbahagia?<br />
Apa yang membuat Anda merasa takut?<br />
Apa yang membuat Anda senang dan berbahagia?</em></p>
<p><strong>2. LIKE YOUR SELF</strong></p>
<p><em>Apa pada diri Anda yang paling Anda sukai?<br />
Apa pada diri Anda yang paling tidak Anda sukai?<br />
Apa pada diri orang lain yang Anda sukai?<br />
Apa pada diri orang lain yang tidak Anda sukai?</em></p>
<p><strong>3. ACCEPT YOUR SELF</strong></p>
<p>Setelah Anda menjawab semua pertanyaan di atas dengan <strong>cermat</strong> dan <strong>penuh kesadaran</strong>, berhentilah menjawab dan biarkan <strong>pikiran bawah sadar</strong> Anda mengambil alihnya. Lupakan semua itu, tapi <strong>jangan lupa segera</strong> lakukan yang berikut ini.</p>
<p><strong>Fokuslah</strong> pada perasaan Anda. Fokuslah sebentar pada <strong>suhu tubuh</strong> Anda dan pada <strong>nafas</strong> Anda. Tegakkan diri Anda dengan <strong>postur</strong> Anda</p>
<p align="left"> Setelah dua atau tiga menit, lakukan yang berikut ini.</p>
<p>Katakan pada diri Anda,</p>
<p><em>&#8220;Apapun yang terjadi setelah hal ini, saya tetaplah saya.&#8221;<br />
&#8220;Saya bertahan dan tumbuh.&#8221;<br />
&#8220;Saya tetap menjadi manusia sebagaimana saya menginginkannya.&#8221;</em></p>
<p>Kemudian katakan ini sebagai penutup,</p>
<p><em>&#8220;Hai yang di dalam, olahlah semua itu, dan berikan yang terbaik darimu untukku. Naikkan dan pertahankan rasa percaya diriku. Aku mempercayaimu.&#8221;</em></p>
<p>Lalu kembalilah kepada apapun yang sedang ada di hadapan Anda <strong>SAAT INI</strong>.</p>
<p>Semoga bermanfaat</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oliphoph.wordpress.com/3204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oliphoph.wordpress.com/3204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oliphoph.wordpress.com/3204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oliphoph.wordpress.com/3204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/oliphoph.wordpress.com/3204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/oliphoph.wordpress.com/3204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/oliphoph.wordpress.com/3204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/oliphoph.wordpress.com/3204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oliphoph.wordpress.com/3204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oliphoph.wordpress.com/3204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oliphoph.wordpress.com/3204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oliphoph.wordpress.com/3204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oliphoph.wordpress.com/3204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oliphoph.wordpress.com/3204/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oliphoph.wordpress.com&amp;blog=29531626&amp;post=3204&amp;subd=oliphoph&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oliphoph.wordpress.com/2012/02/02/tentang-percaya-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/085857dd7ae9749293d4268591b580d9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">oliphoph</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/02/confidence.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Confidence</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Stigma Gender dalam Berkendara</title>
		<link>http://oliphoph.wordpress.com/2012/01/31/stigma-gender-dalam-berkendara/</link>
		<comments>http://oliphoph.wordpress.com/2012/01/31/stigma-gender-dalam-berkendara/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 02:21:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oliph</dc:creator>
				<category><![CDATA[CurCol]]></category>
		<category><![CDATA[sopan santun berkendara]]></category>
		<category><![CDATA[stigma gender]]></category>
		<category><![CDATA[stigma gender dalam berkendara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oliphoph.wordpress.com/?p=3191</guid>
		<description><![CDATA[Dua kali dalam sebulan kena “marah” pengguna jalan yang kebetulan kok berkelamin laki-laki ya?? Pertama sewaktu nyebrang dari arah kantor pos jalan Erlangga (yang katanya mendadak sama mas-mas-berjaket-hitam-bermotor-kinclong itu) saya nyebrangnya mendadak, rating-nya juga mendadak, pokoknya serba mendadak gitu deh. Mendadak gak enak mas, enak itu mendodog #halah apa sih. Trus yang barusan, itu juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oliphoph.wordpress.com&amp;blog=29531626&amp;post=3191&amp;subd=oliphoph&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/01/driving.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3192" title="driving" src="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/01/driving.jpg?w=610" alt=""   /></a>Dua kali dalam sebulan kena “marah” pengguna jalan yang kebetulan kok berkelamin laki-laki ya?? Pertama sewaktu nyebrang dari arah kantor pos jalan Erlangga (yang katanya mendadak sama mas-mas-berjaket-hitam-bermotor-kinclong itu) saya nyebrangnya mendadak, rating-nya juga mendadak, pokoknya serba mendadak gitu deh. Mendadak gak enak mas, enak itu mendodog #halah apa sih.</p>
<p><span id="more-3191"></span></p>
<p>Trus yang barusan, itu juga gara-gara saya udah berenti dan mau nyebrang (liat kanan kiri dong ya) eh ada bapak-bapak berjas hujan yang asal nyrobot gak liat kalo sisi kanan itu ada saya. Ehlakok dianya yang sewot dan “marah-marah” gak jelas? Mentang-mentang dia laki-laki dan saya perempuan terus jadi seenaknya “marah” atau karena saya perempuan sehingga dia (ralat : mereka, dilihat dari dua kasus tadi) bisa seenaknya “menekan” dan “mengintimidasi” saya sehingga saya selalu diposisi “selalu salah”? Atau karena ada stigma kalo perempuan itu lemah, termasuk lemah dalam membawa kendaraan (entah itu beroda dua atau empat)?? Atau kenapa sih harus saya yang kena marah? Saya udah rating (dan ngga mendadak kaliiii), saya udah ada niat baik buat berhenti dan ngajak mas-mas-yang-katanya-mau-jemput-istrinya-dan-sedang-buru-buru itu? Ehya, yang kasus di Jalan Erlangga itu, si-mas-mas itu sempet-sempetnya cerita kalo motornya habis dibengkelin dan dicuci. (nah trus urusannya ma saya apa coba?? Heraaaaan!!)</p>
<p>Dan yang barusan terjadi , bapak-bapak berjas-hujan itu sempet-sempetnya protes “mbaaak,.mbaaak…” seolah-olah saya yang salah. Lha wong saya udah diem mandek nunggu agak sepi, eh dia main serobot dari sebelah kanan saya sampe tangan saya kegencet gitu?</p>
<p>Bener gak sih ada stigma gender dalam kasus berkendara di jalan raya? Kalo ada mobil yang jalan pelan, atau agak sedikit “ngga beres” nyetirnya, trus begitu diintip , ada komentar “<em>wooo…lah pantes, yang nyetir cewek”</em> gitu yang saya pernah denger. Iih…kok ga rela ya. Lebih-lebih ada kasus tabrakan maut itu,  ada komentar lagi “<em>lah ya pantes, yang nyetir cewek..,mabok lagi</em>” Haduuuuuh, tutup kuping aja ah denger komentar begini. Gak suka aja dengernya. Terlalu gender banget! #halah</p>
<p>Gak semuanya kali ah.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oliphoph.wordpress.com/3191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oliphoph.wordpress.com/3191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oliphoph.wordpress.com/3191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oliphoph.wordpress.com/3191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/oliphoph.wordpress.com/3191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/oliphoph.wordpress.com/3191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/oliphoph.wordpress.com/3191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/oliphoph.wordpress.com/3191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oliphoph.wordpress.com/3191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oliphoph.wordpress.com/3191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oliphoph.wordpress.com/3191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oliphoph.wordpress.com/3191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oliphoph.wordpress.com/3191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oliphoph.wordpress.com/3191/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oliphoph.wordpress.com&amp;blog=29531626&amp;post=3191&amp;subd=oliphoph&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oliphoph.wordpress.com/2012/01/31/stigma-gender-dalam-berkendara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/085857dd7ae9749293d4268591b580d9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">oliphoph</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/01/driving.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">driving</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>#15 (judul  pertama ) SAH</title>
		<link>http://oliphoph.wordpress.com/2012/01/26/15-judul-pertama-sah/</link>
		<comments>http://oliphoph.wordpress.com/2012/01/26/15-judul-pertama-sah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 07:23:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oliph</dc:creator>
				<category><![CDATA[CeritaCerita]]></category>
		<category><![CDATA[#15HariNgeblogFF #Hari15]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oliphoph.wordpress.com/?p=3186</guid>
		<description><![CDATA[“Saya terima nikahnya dan kawinnya Dhini Amarta binti Soejarwo dengan mas kawin tersebut dibaya tunai” kata Dhimas “Bagaimana? Sah?&#8230;.” tanya Ustad. Amirudin kepada saksi mempelai “Sah….sah” jawab saksi mempelai Kemudian Ustad memimpin doa setelah prosesi ijab selesai. Para tamu undangan memberikan ucapan selamat pada Dimas dan Dhini. Wajah penuh kebahagiaan menyeliputi keduanya. Hari yang paling [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oliphoph.wordpress.com&amp;blog=29531626&amp;post=3186&amp;subd=oliphoph&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/01/loneliness_folio.jpg"><img class="size-full wp-image-3188 aligncenter" title="loneliness" src="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/01/loneliness_folio.jpg?w=610" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p>“Saya terima nikahnya dan kawinnya Dhini Amarta binti Soejarwo dengan mas kawin tersebut dibaya tunai” kata Dhimas</p>
<p>“Bagaimana? Sah?&#8230;.” tanya Ustad. Amirudin kepada saksi mempelai</p>
<p>“Sah….sah” jawab saksi mempelai</p>
<p>Kemudian Ustad memimpin doa setelah prosesi ijab selesai.</p>
<p>Para tamu undangan memberikan ucapan selamat pada Dimas dan Dhini. Wajah penuh kebahagiaan menyeliputi keduanya.<span id="more-3186"></span></p>
<p>Hari yang paling ditunggu Dhini dan Dimas itu akhirnya selesai sudah. Pesta pernikahaan yang digelar secara sederhana itupun hanya meninggalkan senyum lega diantara keduanya.</p>
<p>Dimas yang tampak lelahpun langsung masuk ke kamar pengantin, berganti baju dan tidur.</p>
<p>Ditinggalnya Dhini sendiri.</p>
<p>**</p>
<p>“Gue ngga bisa Rul, ngga bisa. Sampai kapanpun gue ngga bisa. Pernikahan ini tidak sah. Setidaknya buat gue. ” kata Dimas pada Arul sahabatnya.</p>
<p>“Dibisa-bisain lah..gimanapun juga, Dhini itu istri lo Mas. Inget itu” jawab Arul</p>
<p>“ Tapi gue nikahin dia, demi Dinar. Bukan karena gue cinta sama dia.”</p>
<p>“Elo kan bisa belajar mencintai dia. Gue yakin elo pasti bisa. Sekarang ini mungkin masih berat buat elo. Tapi gue yakin, nanti juga elo bisa mencintai dia. Kecuali kalo elo ngga mau belajar mencintai dia. Itu lain lagi ceritanya” jawab Arul</p>
<p>“Bertahanlah Mas, …inget aja, Dhini saat ini sedang mengandung anaknya Dinar” lanjut Arul</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>6  bulan kemudiaan</strong></p>
<p>“Saya mau minta waktunya mas” kata Dhini suatu sore</p>
<p>“Kenapa Dhin?” jawab Dimas sambil menatap layar televisi di depannya. Terlihat cuek.</p>
<p>“Kenapa mas bertahan untuk terus membohongi diri sendiri? Kalau mas memang tidak mencintai saya, kenapa mas mau menikahi saya? Tanya Dhini sembari terisak</p>
<p>Dimas mematikan televisi, meletakan remote-nya dan menatap Dhini</p>
<p>“Semua demi Dinar dan anaknya.  Itu saja” jawab Dimas sambil berlalu pergi meninggalkan Dhini.</p>
<p>Dhini terisak,kemudian  berjalan menuju kamarnya. Sejak hari pernikahannya sampai saat ini, Dhini tak merasakan arti pernikahan yang sesungguhnya.  Tidur terpisah dengan Dimas dan hanya berkomunikasi sepenuhnya. Dimas hanya memberinya uang belanja bulanan untuk keperluan makan, susu hamil, dan periksa dokter . Selebihnya Dhini mengurus sendiri kebutuhannya.  Tak ada  keluhan yang  keluar dari mulutnya. Ia masih berharap Dimas akan memaafkan dan mencintainya seperti Dinar pernah mencintainya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Elo tau gak? Dinar itu kecelakaan gara-gara elo….jadi, sebenernya elo-lah yang membunuh Dinar</em>” kata Dimas saat pertengakaran hebat itu terjadi</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Baiklah kalo itu maumu Mas, kamu bilang demi Dinar dan anaknya kamu menikahi aku?? …inilah caramu menghukumku yang sudah membunuh adik  kesayanganmu itu….???” Dhini terisak, menaiki kursi yang sudah ia siapkan sebelumnya, dan menjerat lehernya sendiri dengan tali yang tergantung di langit-langit kamarnya. Sambil memejamkan matanya, ia menenendang kursinya dan kemudian  jiwanya pergi dengan tenang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oliphoph.wordpress.com/3186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oliphoph.wordpress.com/3186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oliphoph.wordpress.com/3186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oliphoph.wordpress.com/3186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/oliphoph.wordpress.com/3186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/oliphoph.wordpress.com/3186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/oliphoph.wordpress.com/3186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/oliphoph.wordpress.com/3186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oliphoph.wordpress.com/3186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oliphoph.wordpress.com/3186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oliphoph.wordpress.com/3186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oliphoph.wordpress.com/3186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oliphoph.wordpress.com/3186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oliphoph.wordpress.com/3186/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oliphoph.wordpress.com&amp;blog=29531626&amp;post=3186&amp;subd=oliphoph&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oliphoph.wordpress.com/2012/01/26/15-judul-pertama-sah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/085857dd7ae9749293d4268591b580d9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">oliphoph</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/01/loneliness_folio.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">loneliness</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>#15 (judul kedua) Menikahlah Denganku</title>
		<link>http://oliphoph.wordpress.com/2012/01/26/15-judul-kedua-menikahlah-denganku/</link>
		<comments>http://oliphoph.wordpress.com/2012/01/26/15-judul-kedua-menikahlah-denganku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 06:29:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oliph</dc:creator>
				<category><![CDATA[CeritaCerita]]></category>
		<category><![CDATA[#15HariNgeblogFF #Hari15]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oliphoph.wordpress.com/?p=3179</guid>
		<description><![CDATA[(hari terakhir untuk #15HariNgeblogFF) Dimas duduk termangu menatap pepohonan dibalik jendela kereta yang ia naiki. Kereta yang melajut cepat ini akan membawanya ke sebuah tempat yang ia sebut rumah. Rumah masa kecilnya. Tempat dimana ia tumbuh dengan berbagai cerita dan kenangan. Termasuk kenangan bersama adiknya tercinta , Dinar. Dimas dan Dinar adalah dua saudara yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oliphoph.wordpress.com&amp;blog=29531626&amp;post=3179&amp;subd=oliphoph&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/01/ring1.jpg"><img class="size-full wp-image-3181 aligncenter" src="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/01/ring1.jpg?w=610" alt=""   /></a></p>
<p>(hari terakhir untuk #15HariNgeblogFF)</p>
<p>Dimas duduk termangu menatap pepohonan dibalik jendela kereta yang ia naiki. Kereta yang melajut cepat ini akan membawanya ke sebuah tempat yang ia sebut rumah. Rumah masa kecilnya. Tempat dimana ia tumbuh dengan berbagai cerita dan kenangan. Termasuk kenangan bersama adiknya tercinta , Dinar.</p>
<p><span id="more-3179"></span></p>
<p>Dimas dan Dinar adalah dua saudara yang sangat akrab. Dimas sebagai yang tertua tahu betul bagaimana memperlakukan Dinar. Tidak hanya sebagai adik, tapi juga sebagai teman dan sahabat terbaiknya. Tidak ada yang tersembunyi diantara keduanya. Apapun yang Dimas rasakan, ia ceritakan pada Dinar, demikian juga sebaliknya. Soal uang, soal pacar, soal pekerjaan, soal gadget, soal apa saja keduanya kerap berdiskusi bersama. Tak hanya itu, keduanya juga kerap berbagi bersama. Baju, tas, sepatu, kaos kaki, kaca mata, mobil, semuanya. Keduanya punya selera yang sama. Termasuk seleranya memilih wanita.</p>
<p>Kenangan masa kecilnya bersama Dinar yang tiba-tiba muncul itu,membuatnya gundah. Perjalanan yang seharusnya bisa ia nikmati, malah membuatnya semakin sedih. Setiap kali mengingat Dinar ia mencoba untuk menahan air matanya. Ia tak mau dianggap lelaki cengeng. Tapi kerapuhan jiwa Dimas tak bisa ditutup-tutupi. Tangisannya pecah. Ia berlari ke toilet dan menangis.</p>
<p>***</p>
<p>“Dim, kalo nanti ada apa-apa ma gue, lo harus janji satu hal.” Kata Dinar</p>
<p>“Paan sih lo Nar, ngasal deh kalo ngomong. Elo pasti sembuh Nar, pasti&#8230;” jawab Dimas</p>
<p>“Gue sayang banget sama Dhini , Dim. Dia satu-satunya wanita yang bisa membuat gue jatuh cinta. Gue udah janji bakal nikahin dia. Dan gue takut, gue gak bisa nepatin janji gue ke dia. Jadi, <em>please</em> Dim….lo janji ma gue, kalo sampe gue gak ada, maukah elo menikahi Dhini demi gue?” kata Dinar</p>
<p><em>Maukah elo menikahi Dhini demi gue</em>??. Kata-kata itu masih terus tengiang-ngiang di pikiran Dimas sepanjang perjalannya. Dan demi Dinarlah ia pulang ke rumah. Bukan hanya sekedar untuk bertemu keluarga besarnya dan untuk 7 hariannya Dinar, tapi juga untuk melamar Dhini.</p>
<p><strong>22.15 WIB , dirumah Dimas</strong></p>
<p>“Dhin, gue pernah janji satu hal sama Dinar waktu dia masih dirawat. Dia pernah bilang ke gue, kalo sampe dia kenapa-napa, gue harus janji sama dia untuk nikahin elo.” Kata Dimas.</p>
<p>Dhini kaget bukan kepalang. Dimas yang sudah dianggapnya seperti kakak kandungnya sendiri harus berkata demikian.</p>
<p>“Mas Dimas, gak perlu lah begitu. Gak papa kok mas, saya ikhlas lillahi ta ala. Memang sudah takdirNya mas Dinar harus menghadap Yang Kuasa. Saya ikhlas mas,..meskipun saya ngga pernah mengira, kepergiannya akan secepat ini” Dhini terdiam kemudian terisak mengingat janin yang dikandungnya. “Saya akan membesarkannya sendiri. Demi mas Dinar yang saya cintai” kata Dhini sambil mengelus-elus perutnya.</p>
<p>Dimas kaget “ Apaaaah? Kamu hamil ya Dhin? Anak Dinar?? Sudah berapa bulan? Tanya Dimas</p>
<p>“iya Mas, sudah jalan 3 minggu. Sebelum kecelakaan itu, saya nelpon mas Dinar, ngasih tau kalo saya hamil. Dia seneng mas dengernya. Dan janji bakal nikahin saya dalam waktu dekat ini. Sejam setelah itu saya dapet kabar dari rumah sakit kalo mas Dinar kecelakaan” kata Dhini sambil terisak</p>
<p>Tak beberapa saat kemudian, Dimas tanpa berpikir panjang berlutut di kaki Dhini dan berkata</p>
<p>“Menikahlah denganku”</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oliphoph.wordpress.com/3179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oliphoph.wordpress.com/3179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oliphoph.wordpress.com/3179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oliphoph.wordpress.com/3179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/oliphoph.wordpress.com/3179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/oliphoph.wordpress.com/3179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/oliphoph.wordpress.com/3179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/oliphoph.wordpress.com/3179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oliphoph.wordpress.com/3179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oliphoph.wordpress.com/3179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oliphoph.wordpress.com/3179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oliphoph.wordpress.com/3179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oliphoph.wordpress.com/3179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oliphoph.wordpress.com/3179/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oliphoph.wordpress.com&amp;blog=29531626&amp;post=3179&amp;subd=oliphoph&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oliphoph.wordpress.com/2012/01/26/15-judul-kedua-menikahlah-denganku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/085857dd7ae9749293d4268591b580d9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">oliphoph</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/01/ring1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Dua Puluh Delapan</title>
		<link>http://oliphoph.wordpress.com/2012/01/25/dua-puluh-delapan/</link>
		<comments>http://oliphoph.wordpress.com/2012/01/25/dua-puluh-delapan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 08:13:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oliph</dc:creator>
				<category><![CDATA[life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oliphoph.wordpress.com/?p=3171</guid>
		<description><![CDATA[Dua puluh delapan itu bukan hanya tentang angka, tapi perjalanan. Yang kadang menyenangkan dan bisa kunikmati serta kusyukuri, namun kadang  juga menakutkan hingga aku takut melaluinya. Dua puluh delapan itu juga tentang perjuangan melanjutkan perjalanan. Perjalanan mencari apa itu yang disebut “passion” oleh dia-yang-menyebut-dirinya coach career. Perjalanan mewujudkan apa yang disebut pasangan muda yang dimabuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oliphoph.wordpress.com&amp;blog=29531626&amp;post=3171&amp;subd=oliphoph&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/01/candle1.jpg"><img class="wp-image-3173 aligncenter" title="candle" src="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/01/candle1.jpg?w=427&#038;h=284" alt="" width="427" height="284" /></a></p>
<p style="text-align:center;">Dua puluh delapan itu bukan hanya tentang angka, tapi perjalanan.</p>
<p style="text-align:right;">Yang kadang menyenangkan dan bisa kunikmati serta kusyukuri, namun kadang  juga menakutkan hingga aku takut melaluinya.</p>
<p style="text-align:left;">Dua puluh delapan itu juga tentang perjuangan melanjutkan perjalanan. Perjalanan mencari apa itu yang disebut “<em>passion</em>” oleh dia-yang-menyebut-dirinya <em>coach career.</em> Perjalanan mewujudkan apa yang disebut pasangan muda yang dimabuk cinta itu – <em>sakinah-mawaddah-warahmah.</em><span style="text-align:right;"> </span></p>
<p style="text-align:center;">Dua puluh delapan itu  langkah awal untuk  menjadi perempuan  dewasa yang bertanggung jawab dengan dirinya sendiri. Ah, tidak hanya itu. Tapi kehidupan  yang memberi manfaat untuk lingkungan sekitarnya.</p>
<p style="text-align:right;">Bagiku,</p>
<p style="text-align:right;">Dua puluh delapan adalah harapan untuk tetap berharap,  tetap keikhlasan dan  kesabaran.</p>
<p style="text-align:right;">Dua puluh delapan mengajarkanku untuk tetap bersyukur.</p>
<p style="text-align:right;">Dua puluh delapan mengajakku untuk mencoba dan belajar banyak hal.</p>
<p style="text-align:center;">Dua puluh delapan bukan tetang siapa yang juara, tapi tentang siapa yang bisa menyelesaikannya hingga garis finish</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oliphoph.wordpress.com/3171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oliphoph.wordpress.com/3171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oliphoph.wordpress.com/3171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oliphoph.wordpress.com/3171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/oliphoph.wordpress.com/3171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/oliphoph.wordpress.com/3171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/oliphoph.wordpress.com/3171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/oliphoph.wordpress.com/3171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oliphoph.wordpress.com/3171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oliphoph.wordpress.com/3171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oliphoph.wordpress.com/3171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oliphoph.wordpress.com/3171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oliphoph.wordpress.com/3171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oliphoph.wordpress.com/3171/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oliphoph.wordpress.com&amp;blog=29531626&amp;post=3171&amp;subd=oliphoph&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oliphoph.wordpress.com/2012/01/25/dua-puluh-delapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/085857dd7ae9749293d4268591b580d9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">oliphoph</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://oliphoph.files.wordpress.com/2012/01/candle1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">candle</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
