Soal Migran

Hampir 1,5 juta perempuan pekerja rumah tangga, umumnya dari Indonesia, Sri Lanka dan Filipina, bekerja di Arab Saudi. Para pekerja ini, yang dianggap sebagai “pahlawan ” di kampung halamannya karena jumlah mata uang asing yang mereka hasilkan.
Tapi sayangnya, para migran perempuan ini mendapat kan sedikit perlindungan daripada pekerja lainnya di Arab Saudi. Dan karena kesewenang-wenangan dengan sedikit atau tanpa harapan untuk memperoleh
penanganan.
Sementara banyak pekerja rumah tangga yang menikmati kondisi kerja yang layak, yang lainnya menghadapi berbagai bentuk kesewenang-wenangan termasuk upah yang tidak dibayar, pengurungan paksa, tidak mendapat makan yang cukup, beban kerja yang berlebihan, dan tindak penganiayaan hebat atas mental, fisik, dan seksual. Human Rights Watch mencatat lusinan kasus dimana gabungan dari kondisi-kondisi ini melahirkan kerja paksa, perdagangan manusia, atau kondisi seperti perbudakan.
Para pekerja yang datang ke Arab itu punya niat untuk bekerja, bukan untuk membunuh. Kalau sampai mereka didakwa “membunuh”, seharusnya dicari tau kenapa sampai mereka “membunuh”
Banyak pekerja rumah tangga yang mendapat majikan yang bertanggungjawab, yang memperlakukan mereka dengan baik, membayar mereka dengan teratur, dan memastikan kondisi kerja yang layak. Pengalaman para pekerja ini sering menjadi anggapan dasar yang tersebar luas di negara asal mereka bahwa pekerjaan di luar negeri menggiurkan dan menyenangkan.
Ada juga yang tidak beruntung dan terperangkap dalam situasi yang tidak menyenangkan.
HRW (Human Right Watch) mencatat beberapa kasus kekerasan fisik dan psikologis yang dilakukan oleh majikan, dan beberapa kasus oleh agen. Contoh kekerasan termasuk pemukulan,
pembakaran sengaja dengan besi panas, ancaman, hinaan, dan bentuk-bentuk perendahan kemanusiaan seperti mencukur kepala pekerja rumah tangga. Tidak diberi makan yang cukup merupakan penganiayaan yang umum terjadi. HRW mewawancarai perempuan-perempuan yang melaporkan telah mengalami perkosaan, percobaan perkosaan, dan pelecehan seksual, biasanya oleh majikan laki-laki dan anak laki-laki majikan mereka, dan dalam beberapa kejadian, oleh pekerja asing yang dimintai pertolongannya.
Ada 28 nama migran yang tercancam hukuman pancung. Beberapa karena dakwaan membunuh. Yang baru banyak dibicarakan adalah kasus Ruyati dan Darsem
Negara ini jangan bangga dengan banyaknya TKI , karena semakin banyaknya TKI semakin membuktikan bahwa negara ini gagal dan negara ini miskin.
Negara ini gagal menyejahterakan rakyatnya , dan banyak rakyat yang masih hidup dalam kemiskinan.
gambar dari sini
Advertisements

Leave a comment

Filed under Tak Berkategori

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s