Tentang Yasri

yasri dan safi

Rabu (29/06/11) saya ke Paten atas undangan mas Tejo untuk bantu ngisi acara di Kemah Liburan anak-anak #rumahbaca. Ada 17 anak yang ikut acara kemah ini. Awalnya ada 23 anak yang daftar, tapi karena gak dapet ijin dari orang tuanya trus juga ada anak yang mesti daftar sekolah jadinya pesertanya berkurang.

Satu peserta yang mo saya ceritain disini adalah Yasri. Anak ini memang “berbeda” dengan anak-anak lainnya. Usianya sekarang sudah 16tahun. Anak dengan usia 16tahun itu harusnya sudah SMP bukan? Kelas 3 kan? Nah kalo Yasri ini baru tahun ini lulus SD. Sering ngga naik kelas. Perkembangannya memang agak sedikit lambat. Banyak guru dan guru tambahannya (Yasri) yang menyerah untuk ngajarin Yasri. Faktanya, * saya baru dapet kemaren ketika saya ngobrol sama mbak Dwi dan Mbak Susi* adalah Yasri ini baru bisa menulis dan membaca dengan lancar ketika Mb

Dwi dan Mb Susi ngasih pelajaran tambahan untuk
dia.
Guru2 sudah menyerah bahkan pesimis Yasri akan lulus SD tahun ini.
Secara akademik memang Yasri kurang. Tapi jangan tanya kalo soal lukisan. Wuaaaa….untuk anak seusianya termasuk yang top :). Lukisan bunga dan punakawan jadi andalannya.
Jadi ketika saya ada di kelas untuk membawakan materi ke peserta kemah, saya membaca tulisan soal cita-cita mereka. Termasuk cita-cita Yasri yang ingin jadi pelukis dan penari.
Ketika saya minta Yasri maju untuk membaca tulisannya, dia berani maju meskipun dia membaca dengan terbata-bata . Dia terus membaca tulisannya, meskipun teman2 lainnya mengolok2 dia.
Hari kedua Kemah, dalam sesi permainan kelompokpun Yasri kembali jadi “korban” teman-temannya. Temen sekelompoknya ga mau main sama Yasri karena kalo ada Yasri nanti kelompoknya kalah.
Akhirnya, emosi saya memuncak . Saya terpaksa menegur dengan keras anak2 atas perlakuan diskriminasinya thp Yasri.
Saya menyesal sudah emosi. Tapi, saya harus lakukan itu..supaya anak2 tahu bahwa sangat tidak nyaman dan menyenangkan menjadi korban “bullying”. Saya tegur anak2 & ngasih pengertian bahwa harus saling mengasihi satu dengan yang lain.
Yasri jadi anak yang tidak percaya diri. Tiap kali saya mau foto dia selalu nutup mukanya.
Sekarang, Yasri sudah lulus SD dan ingin kursus Lukis dan Tari di Bantul tempat kakaknya. Tapi, Ibunya Yasri pengennya Yasri dirumah aja. Jualan Jus Buah. *cerita Yasri* nanti dibeliin Blander untuk jualan di rumah. Sementara Yasri sendiri pengennya bisa kursus. Dia takut ngomong sama Ibu dan Kakaknya. Jadi Yasri minta tolong mb Dwi dan mb Susi untuk ngobrol sama Ibu dan kakaknya.

Ohya, saya lupa ngenalin. Mba Dwi dan Mba Susi ini mahasiswa praktek dari Sekolah Teologi Baptis Semarang jurusan pengembangan Masyarakat. Sejak Desember sampai nanti Agustus dia praktek di Dusun Paten.
Nah salah satu program mb Dwi dan mb Susi ini adalah belajar bersama termasuk pelajaran tambahan khusus untuk Yasri. Karena guru2 sudah menyerah dan pesimis maka atas tekanan warga sekitar bahkan keluarga Yasri yang sudah pesimis itulah mba Dwi dan mb Susi semangat untuk memberikan pelajaran tambahan untuk Yasri. Sampai akhirnya Yasri lulus. Padahal gak gampang loh ngajarin Yasri. Ekstra sabar dan telaten.
Salut untuk mba Dwi dan Mba Susi.
Saya berdoa, Yasri dapat mewujudkan cita-citanya. Menjadi pelukis dan penari.
Semangat ya Yasri….kamu bisa!
Advertisements

Leave a comment

Filed under Rumah Baca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s