Belajar dari Darsem


Kita bisa belajar darimana saja. Termasuk dari kehidupan sehari-hari yang ada disekitar kita.

Beberapa hari ini, lepas dari berita Nazarudin yang tertangkap, ada juga berita tentang Darsem. TKI yang hampir dihukum pancung di Arab. Tapi akhirnya dibebaskan oleh pemerintah. Darsem akhirnya diampuni dari hukuman mati karena adanya kompensasi dari pemerintah. Waktu, ibda dan pedih dirasakan oleh Darsem dan keluarganya. Apalagi setelah kasus Ruyati *yang sudah dieksekusi* kasus TKI2 lainnya bermunculan termasuk Darsem ini. Karena itulah, ada macam cara utk mengumpulan uang utk membebaskan Darsem. Dari ibu2 rumah tangga, aktivis LSM sampai dengan stasiun TV Swasta. Uang milyaran rupiah terkumpul dan diberikan ke Darsem. Tapi apa yang terjadi???
Dikabarkan, Darsem sekarang hidup mewah. Di salah satu media cetak ditulis bahwa Darsem bak “toko emas berjalan”. Beli sawah, rumah, emas, dll. KOnon juga, si Darsem itu jadi berubah. Kalau dulu dia cenderung pendiam, sekarang lebih senang diwawancara. Pengacara Darsem-pun jadi tak enak hati. Karena Darsem pernah berjanji untuk memperbaiki jalan, menyantuni kaum miskin dan yatim dan janji2 kemanusiaan lainnya.
Pagi ini, saya baca di salah satu tabloid dan disana ada kolom berita ttg pendapat dari ayah Darsem. Dengan judul (intinya) Darsem sudah menyumbang 500rb untuk panti asuhan.
**
Tanpa menghakimi dan berkomentar ttg bagaimana Darsem, saya memilih utk belajar dari kisah Darsem ini. Bahwasanya lebih baik rezeki sederhana yang diberikan Allah daripada rezeki yang banyak tetapi menyusahkan kita kelak .
Bahwa, kalau saya baca juga dari kisah2 jaman dulu kala…ada tokoh yang mirip dengan Darsem.
Karena saking miskinnya, kain untuk sembayang saja mesti bergantian dengan istrinya. Dan si miskin ini terus meminta agar didoakan supaya kaya dengan janji kalau kaya nanti, akan begini akan begitu. Intinya, segala harta yang diberikan nantinya akan digunakan sebagi2nya demi kemanusiaan dan kemuliyaan Tuhan Allah.
Sebenernya, gak ada yang salah dengan doa itu. Toh Gusti Allah juga seneng kalo kita berdoa dan meminta kepadaNya. Gusti Allah juga pasti seneng kalau umatNya kaya. Karena dengan kekayaannya umatNya akan lebih banyak berderma. Ada juga ungkapan bahwa kefakiran itu dekat dengan kefakiran. Maksudnya , orang2 fakir (miskin) bila tak menjaga imannya akan bisa tergiur oleh harga sampai tega meninggalkan atau menggadaikan imannya.
Tak jarang, setelah diberi harta malah meninggalkan Tuhan, malah jauh dari Tuhan.
“…sekiranya aku diberi rejeki banya, aku akan memberi banyak sedekah, aku akan menjadi orang sholeh…tapi bila setelah memperoleh rejeki yang berlimpah ia menjadi orang yang berpaling dari janjinya,apakah mereka tidak tahu bahwa Allah itu Maha Mengetahui segala rahasia dan apa yang tersirat dalam hati mereka. …bahkan Allah itu mengetahui apa yang (masih) ada dalam pemikiran kita…”
Hari ini saya belajar, bahwa segala kekayaan yang kita punya ini adalah pinjaman. Karena sesunggunya yang empunya hanya Gusti Allah. Dan, apa salahnya kalau kita menyalurkan juga kepada mereka yang memerlukannya.
RT @gusmusgusmu: TWEET JUM’AT: Jangan malu memberi sedikit. Tidak memberi jauh lebih sedikit.

Advertisements

Leave a comment

Filed under LiFe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s