oleh oleh dari Rumah Baca

Setelah sekian lama saya absen ke rumah baca, akhirnya saya kembali menghirup udara Dusun Paten , Sabtu lalu 🙂

Selalu bersemangat kalo mau ke rumah baca, padahal mendung loh. Tapi tetep aja hajar… 🙂
Cerita dimulai dari naik angkot dengan supir yang seperti pembalap gak kesampaian, sampai supir yang gayanya preman banget. Antara geli-geli gimana gitu, abis si supir ini gaya rambutnya jadul, ala tahun 80-an lah . Hm..gak sempet moto sih, tapi kurang lebih, penampakannya seperti ini :

Tepatnya adalah gambar no 12, tapi keriting padat ala Lionel Richie gitu deh. *eh, dibahas owk ya* hehehe
Ya sud, abaikan saja cerita supir angkot tadi. Saya mau share soal rumah baca ya 🙂 sebenernya sih cerita soal rumah baca , bisa dibaca disini , tapi kurang afdol kalo saya menulis dari sudut pandang saya #halah.
Jadi, sewaktu saya sampai di Dusun Paten, saya sudah disambut teriakan khas dari anak-anak sana. Mereka memanggil nama saya,…”mba olive..mba olive..” disana dan disini. Rame sekali. Senang mendengarnya, tapi sedikit terharu. Luar biasa sambutannya. Saya merasa dirindukan oleh mereka #eh, hehe
Sebelum sampai ke rumah baca, saya dan mas patjar sempet mampir belanja dulu. Karena bisa dipastikan, di rumah baca sudah tidak ada lagi beras, kopi, teh, gula dan lain-lain. Kalo dulu sih mungkin masih ada, soalnya ada Mbak Dwi dan Mba Susi *mahasiswi yg lagi KKN di Dusun Paten*, nah kalo sekarang, sepi….bahkan kamar belakang *gudang sih tepatnya*, udah gak ada kasur lagi 😦 Jadilah saya belanja keperluan 2hari untuk makan dan minum kami. Kenapa mesti belanja, hyaa iyalah….di dusun Paten jarang ada orang lewat jualan mie jawa, bakso, sate, dll. Boro2 yah ada yang mau jualan, mo naik sampe Dusun Paten aja jarang ada. 😦 jadi selain mie instant, amannya ya masak.
Nah, selain sambutan anak-anak yang super hore itu, setiap kali.. catet, setiap kali ketemu sama warga, selalu disapa senyum sambil di sapa “monggo…pinarak rumiyen” (baca: silahkan..yuk mampir). Setiap kali…se-ti-ap kali. Ramah-ramah kan? *heheeh*

inilah sudut favorit sayah, tempat saya masak untuk semuanya

*maaf berantakan*, ini adalah posisi kami biasa ngobrol
terlihat kardus berisi buku yang belom dibuka karena kami butuh rak buku lagi
Hari itu saya dan pengurus ngobrol ini dan itu. Saya pengen menyemangati mereka *para pengurus* untuk lebih semangat mengembangkan rumah baca ini. Saya secara pribadi berterima kasih kepada mereka, karena mereka mau meluangkan waktunya untuk rumah baca. Saya katakan ke mereka, bahwa apa yang dilakukan pengurus rumah baca ini untuk kebaikan
bersama warga Dusun, terutama untuk anak-anak. Senang rasanya mendengar kalo mereka menjadi pintar dan tau banyak informasi karena mereka membaca di rumah baca. Jadi pasti ada manfaatnya.
Saya juga bersyukur, sudah hampir 9bulan lebih saya dan teman-teman lainnya (Dodo, Tejo, Budi, Joko, Patub) mendirikan rumah baca ini. Senang rasanya kalau rumah baca ini sekarang punya lebih dari 1000buku yang variaatif jenisnya, sumbangan dari para donatur. Senang rasanya rumah baca beroperasi secara rutin, meskipun tidak setiap hari tapi saya mengamati dari buku absen dan buku peminjaman setidaknya lebih dari 10orang datang ke rumah baca setiap kali bukanya. Senang rasanya kalau mulai ada anak-anak generasi baru yang mulai “care” dengan rumah baca dan saya melirik mereka untuk dipersiapkan menjadi penerus pengurus berikutnya.
Senang rasanya saya mendengar Asep bercerita ttg keinginannya mengadakan kegiatan belajar bersama untuk anak2 SD. Berarti Asep *salah satu pengurus* sudah mulai aware dengan kondisi adik2nya yang butuh bimbingan belajar supaya tingkat ketidaklulusan di dusun Paten bisa diperkecil. Namun sayangnya, tidak banyak SDM yang bisa mendampingi anak-anak belajar bersama. Jadi, kegiatan ini sepertinya harus dipending dulu.
Senang rasanya mendengar Ummi, *salah satu pengurus* mau meluangkan waktunya di hari Minggu untuk mengajari adik2nya belajar bahasa Inggris.
satu rak yang sudah penuh – depan belakang
Hari itu juga saya melihat sendiri banyaknya buku-buku yang ada. Senang!! Tapi rupanya beberapa buku bantuan dari donatur ada yang belum dibuka kardusnya, karena tempat sudah tidak ada lagi.
Kami memang butuh rak buku lagi. Saya hitung ada sekitar 4 kardus yang belum dibuka. Sedih rasanya 😦
Tapi, saya yakinkan ke pengurus semoga dalam waktu dekat ini kita bisa buat rak buku lagi. 🙂
Makanya saya berkeluh pada @Tuhan, agar diberikan rak buku lagi 🙂
Alhamdulilahnya, untuk sewa rumah sudah terbayarkan sampai bulan Juli 2012, listrik juga sudah dibayar sampai Desember 2011 ini.

Saya percaya @Tuhan ikut memelihara rumah baca, sebab dari dulu awal berdirinya rumah baca, kami sama sekali gak punya uang untuk beli ini dan itu. Tapi alhamudlilah, @Tuhan menyediakan. Jadi, untuk kali ini, saya juga percaya, pasti @Tuhan akan sediakan 🙂
Advertisements

Leave a comment

Filed under Rumah Baca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s