AIR MATA MATA AIR MERAPI

gambar diambil dari sini



AIR MATA MATA AIR MERAPI
Saya akan mengajak Anda berjalan-jalan ke lereng Gunung Merapi. Saya akan membawa Anda ke satu Dusun di Kecamatan Dukun, Muntilan Kabupaten Magelang. Satu dusun yang tidak pernah saya kenal sebelumnya. Saya mengenal dusun ini setelah saya bersama teman-teman lainnya menjadi relawan pada saat erupsi Merapi tahun 2010 yang lalu.
Dusun yang letaknya 6 km dari lereng Merapi ini termasuk dusun yang subur. Mayoritas penduduknya adalah petani sayuran.
Saat erupsi Merapi terjadi, warga sekitar Gunung Merapi mengeluh kekurangan air karena ratusan mata air menghilang tertutup material Merapi. Termasuk warga di Kecamatan Dukun ini. Ironis memang, gunung yang selama ini memiliki banyak ratusan mata air Umbul Lanang dan Umbul Wadon harus mengalami kekeringan karena hilangnya sumber mata air.

Sejak erupsi Merapi, pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan juga sudah memberikan informasi bahwasanya air yang dikonsumsi warga saat ini masih tergolong aman, dibanding dengan beberapa dusun yang letaknya ada di hulu dan hilir Sungai yang terkena aliran lahar dingin Merapi. Sebabnya air yang ada di sekitar hulu dan hilir Merapi ini mengandung banyak zat besi yang tentu saja tidak baik untuk kesehatan.
Seperti yang kita ketahui bersama, sumber air terbaik di dunia saat ini berasal dari tanah di kawasan pegunungan vulkanik karena lapisan batuan yang ada di kawasan pegunungan itu memungkinkan air hujan yang meresap ke tanah mendapat tambahan berbagai mineral alam yang sangat dibutuhkan oleh manusia dan bermanfaat bagi kesehatan. Mata air dari pegunungan pada umumnya terdapat pada batuan vulkanik baik berupa endapan lahar, breksi dan lava yang muncul akibat adanya pemotongan topografi terhadap akuifer-nya (lapisan batuan pembawa air). Diakui memang air pegunungan jauh lebih baik dan sempurna baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Hal ini disebabkan daerah pegunungan umumnya mempunyai daerah tangkapan air yang lebih baik. Namun untuk saat ini, karena banjir lahar dingin, menyebabkan mata air di lereng Merapi menjadi terbuka dan terkontaminasi dengan berbagai macam kotoran, misalnya kotoran ternak dan lain-lain. Terlebih lagi air sungai yang juga mulai tercemar oleh lahar dingin.
Sekarang adalah puncak musim hujan, yang mana intensitas curah hujan di wilayah lereng Merapi akan tinggi. Dan diperkirakan lagi akan terjadi banjir lahar dingin. Dan ini memungkinkan mata air yang selama ini sudah “dibersihkan” oleh warga dan pipa-pipa yang dibuat oleh warga sumbangan dari donatur-pun akan kembali rusak dan terputus. Tentu saja mata air yang dulunya mengalir lancar kini menjadi mampet karena tertutup material Merapi.
Bila Umbul Wadon (mata air) ini diibaratkan seperti seorang perempuan, mungkin ia akan menangis. Mata air ini kembali menangis karena ia tidak bisa memancarkan air bersih untuk kebutuhan warga sekitar. Air bersih yang semakin hari semakin susah ditemukan, terlebih di kawasan pegunungan yang merupakan sumber air bersih, apalagi di daerah perkotaan seperti di daerah tempat saya tinggal? Di lereng gunung Merapi saja, air yang seharusnya berlimpah ruah , untuk mendapatkanya harus membayar sekian rupiah untuk sekian liternya. Bagaimana dengan yang di kota? Yang jauh dari gunung? Tentu bisa kita banyangkan sejak dari sekarang.
Mereka yang kerapkali membuang-buang air seharusnya sadar bahwa kebutuhan air dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, dan sumbernya semakin hari semakin berkurang. Bertambahnya penduduk yang terus meningkat tak urung juga menyebabkan kebutuhan air-pun menjadi meningkat. Air yang dulu merupakan barang sosial kini menjadi barang ekonomis. Dahulu kita dengan mudah bisa mendapatkan air, sekarang harus untuk mendapatkanya kita harus membayar sejumlah uang yang tidak sedikit jumlahnya. Bahkan lama-lama nantinya air akan menjadi barang yang penting dan strategis bagi negara. Dari yang sumber daya alam yang terbaharui menjadi sumber daya alam yang langka kita sebagai manusia tidak secara bijak memanfaatkan air.
KONSERVASI SUMBER DAYA AIR DI MATA BLOGGER
Lalu apa yang bisa kita lakukan?? Saya dan Anda semua bisa melakukan hal-hal kecil dan sederhana untuk saling memperingatkan satu-sama lain mengenai pentingnya melestarikan dan melindungi alam. Misalnya adalah melalu blog ini. Kenapa?? Ini dia penjelasannya!! Simak ya…heheh
Kata @pamantyo, setiap orang yang punya blog itu disebut blogger. Dan karena “alhamdulilah yah” saya punya blog 🙂 , ya meskipun tidak sering-sering amat nulisnya , maka sayapun layak disebut blogger . Sebenarnya apa sih blogger itu? Sebelum kita mencari tahu apa itu blogger itu, mari kita menyamakan perspektif mengenai blog. Ya, menurut Wikipedia, blog itu adalah singkatan dari web log, sebuah bentuk aplikasi web yang menyerupai tulisan-tulisan yang nantinya dimuat dalam bentuk posting pada sebuah halaman web umum. Situs blog ini biasanya dapat diakses oleh semua pengguna internet sesuai dengan topik dan tujuan dari si pengguna blog tersebut. Nah pengguna blog tersebut disebut blogger.
Lalu apa kaitanya dengan sumber daya air dan konservasi bagi blogger? Simple saja kok 🙂 bantu menyebarluaskan informasi untuk kembali mengingatkan kita semua bahwasanya alam termasuk alam perlu dilestarikan dan dilindungi. Berawal dari (mungkin) tulisan-tulisan status kita di media sosial seperti twitter dan facebook , sampai akhirnya tulisan-tulisan di blog kita. Ya maklum, twitter dan facebook mungkin punya keterbatasan karakter. Tapi kalo di Blog, kita bebas menuliskan dan menyuarakan pendapat kita.
So, inilah salah satu cara saya untuk ikut mendukung konservasi sumber daya air, yaitu dengan menulis!! 🙂
Anda juga mau? Silahkan…tuliskan!!
(jadi ingat, perintah dalam Al Quran yaitu Iqra! Atau bacalah…!!! Apa yang kita baca kalau bukan tulisan?! Maka menulislah!! Hehehe)

Sumber Foto : Mas Djoko (diambil dari sini)
Advertisements

Leave a comment

Filed under Tak Berkategori

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s