#15 (judul kedua) Menikahlah Denganku

(hari terakhir untuk #15HariNgeblogFF)

Dimas duduk termangu menatap pepohonan dibalik jendela kereta yang ia naiki. Kereta yang melajut cepat ini akan membawanya ke sebuah tempat yang ia sebut rumah. Rumah masa kecilnya. Tempat dimana ia tumbuh dengan berbagai cerita dan kenangan. Termasuk kenangan bersama adiknya tercinta , Dinar.

Dimas dan Dinar adalah dua saudara yang sangat akrab. Dimas sebagai yang tertua tahu betul bagaimana memperlakukan Dinar. Tidak hanya sebagai adik, tapi juga sebagai teman dan sahabat terbaiknya. Tidak ada yang tersembunyi diantara keduanya. Apapun yang Dimas rasakan, ia ceritakan pada Dinar, demikian juga sebaliknya. Soal uang, soal pacar, soal pekerjaan, soal gadget, soal apa saja keduanya kerap berdiskusi bersama. Tak hanya itu, keduanya juga kerap berbagi bersama. Baju, tas, sepatu, kaos kaki, kaca mata, mobil, semuanya. Keduanya punya selera yang sama. Termasuk seleranya memilih wanita.

Kenangan masa kecilnya bersama Dinar yang tiba-tiba muncul itu,membuatnya gundah. Perjalanan yang seharusnya bisa ia nikmati, malah membuatnya semakin sedih. Setiap kali mengingat Dinar ia mencoba untuk menahan air matanya. Ia tak mau dianggap lelaki cengeng. Tapi kerapuhan jiwa Dimas tak bisa ditutup-tutupi. Tangisannya pecah. Ia berlari ke toilet dan menangis.

***

“Dim, kalo nanti ada apa-apa ma gue, lo harus janji satu hal.” Kata Dinar

“Paan sih lo Nar, ngasal deh kalo ngomong. Elo pasti sembuh Nar, pasti…” jawab Dimas

“Gue sayang banget sama Dhini , Dim. Dia satu-satunya wanita yang bisa membuat gue jatuh cinta. Gue udah janji bakal nikahin dia. Dan gue takut, gue gak bisa nepatin janji gue ke dia. Jadi, please Dim….lo janji ma gue, kalo sampe gue gak ada, maukah elo menikahi Dhini demi gue?” kata Dinar

Maukah elo menikahi Dhini demi gue??. Kata-kata itu masih terus tengiang-ngiang di pikiran Dimas sepanjang perjalannya. Dan demi Dinarlah ia pulang ke rumah. Bukan hanya sekedar untuk bertemu keluarga besarnya dan untuk 7 hariannya Dinar, tapi juga untuk melamar Dhini.

22.15 WIB , dirumah Dimas

“Dhin, gue pernah janji satu hal sama Dinar waktu dia masih dirawat. Dia pernah bilang ke gue, kalo sampe dia kenapa-napa, gue harus janji sama dia untuk nikahin elo.” Kata Dimas.

Dhini kaget bukan kepalang. Dimas yang sudah dianggapnya seperti kakak kandungnya sendiri harus berkata demikian.

“Mas Dimas, gak perlu lah begitu. Gak papa kok mas, saya ikhlas lillahi ta ala. Memang sudah takdirNya mas Dinar harus menghadap Yang Kuasa. Saya ikhlas mas,..meskipun saya ngga pernah mengira, kepergiannya akan secepat ini” Dhini terdiam kemudian terisak mengingat janin yang dikandungnya. “Saya akan membesarkannya sendiri. Demi mas Dinar yang saya cintai” kata Dhini sambil mengelus-elus perutnya.

Dimas kaget “ Apaaaah? Kamu hamil ya Dhin? Anak Dinar?? Sudah berapa bulan? Tanya Dimas

“iya Mas, sudah jalan 3 minggu. Sebelum kecelakaan itu, saya nelpon mas Dinar, ngasih tau kalo saya hamil. Dia seneng mas dengernya. Dan janji bakal nikahin saya dalam waktu dekat ini. Sejam setelah itu saya dapet kabar dari rumah sakit kalo mas Dinar kecelakaan” kata Dhini sambil terisak

Tak beberapa saat kemudian, Dimas tanpa berpikir panjang berlutut di kaki Dhini dan berkata

“Menikahlah denganku”

Advertisements

Leave a comment

Filed under CeritaCerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s