#15 (judul pertama ) SAH

“Saya terima nikahnya dan kawinnya Dhini Amarta binti Soejarwo dengan mas kawin tersebut dibaya tunai” kata Dhimas

“Bagaimana? Sah?….” tanya Ustad. Amirudin kepada saksi mempelai

“Sah….sah” jawab saksi mempelai

Kemudian Ustad memimpin doa setelah prosesi ijab selesai.

Para tamu undangan memberikan ucapan selamat pada Dimas dan Dhini. Wajah penuh kebahagiaan menyeliputi keduanya.

Hari yang paling ditunggu Dhini dan Dimas itu akhirnya selesai sudah. Pesta pernikahaan yang digelar secara sederhana itupun hanya meninggalkan senyum lega diantara keduanya.

Dimas yang tampak lelahpun langsung masuk ke kamar pengantin, berganti baju dan tidur.

Ditinggalnya Dhini sendiri.

**

“Gue ngga bisa Rul, ngga bisa. Sampai kapanpun gue ngga bisa. Pernikahan ini tidak sah. Setidaknya buat gue. ” kata Dimas pada Arul sahabatnya.

“Dibisa-bisain lah..gimanapun juga, Dhini itu istri lo Mas. Inget itu” jawab Arul

“ Tapi gue nikahin dia, demi Dinar. Bukan karena gue cinta sama dia.”

“Elo kan bisa belajar mencintai dia. Gue yakin elo pasti bisa. Sekarang ini mungkin masih berat buat elo. Tapi gue yakin, nanti juga elo bisa mencintai dia. Kecuali kalo elo ngga mau belajar mencintai dia. Itu lain lagi ceritanya” jawab Arul

“Bertahanlah Mas, …inget aja, Dhini saat ini sedang mengandung anaknya Dinar” lanjut Arul

 

6  bulan kemudiaan

“Saya mau minta waktunya mas” kata Dhini suatu sore

“Kenapa Dhin?” jawab Dimas sambil menatap layar televisi di depannya. Terlihat cuek.

“Kenapa mas bertahan untuk terus membohongi diri sendiri? Kalau mas memang tidak mencintai saya, kenapa mas mau menikahi saya? Tanya Dhini sembari terisak

Dimas mematikan televisi, meletakan remote-nya dan menatap Dhini

“Semua demi Dinar dan anaknya.  Itu saja” jawab Dimas sambil berlalu pergi meninggalkan Dhini.

Dhini terisak,kemudian  berjalan menuju kamarnya. Sejak hari pernikahannya sampai saat ini, Dhini tak merasakan arti pernikahan yang sesungguhnya.  Tidur terpisah dengan Dimas dan hanya berkomunikasi sepenuhnya. Dimas hanya memberinya uang belanja bulanan untuk keperluan makan, susu hamil, dan periksa dokter . Selebihnya Dhini mengurus sendiri kebutuhannya.  Tak ada  keluhan yang  keluar dari mulutnya. Ia masih berharap Dimas akan memaafkan dan mencintainya seperti Dinar pernah mencintainya.

 

“Elo tau gak? Dinar itu kecelakaan gara-gara elo….jadi, sebenernya elo-lah yang membunuh Dinar” kata Dimas saat pertengakaran hebat itu terjadi

 

“Baiklah kalo itu maumu Mas, kamu bilang demi Dinar dan anaknya kamu menikahi aku?? …inilah caramu menghukumku yang sudah membunuh adik  kesayanganmu itu….???” Dhini terisak, menaiki kursi yang sudah ia siapkan sebelumnya, dan menjerat lehernya sendiri dengan tali yang tergantung di langit-langit kamarnya. Sambil memejamkan matanya, ia menenendang kursinya dan kemudian  jiwanya pergi dengan tenang.

 

 

 

Advertisements

5 Comments

Filed under CeritaCerita

5 responses to “#15 (judul pertama ) SAH

  1. indah

    huwuw.. akhir yang tragis!

  2. hiks.. kenapa? kenapa bunuh diri?
    anaknya kan berhak untuk hidup..
    mbak oliph, saya undang mampir ke tempat saya.. saya lagi bikin kontes FF nih 😀
    http://pagi2buta.wordpress.com/2012/01/31/kontes-lagi-flashfiction-ambrosia/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s