Kenikmatan Cinta **

Ada yang bilang, buah khuldi itu dimakan oleh Hawa bukan Adam, tapi keduanya jatuh dalam dosa bersama-sama. Aku tak tahu mana yang benar. Dari kecil aku mendengar banyak cerita tentang surga, termasuk buah khuldi itu. Tapi tak pernah sekalipun aku mengerti apa itu surga. Umurku baru 6 tahun kala itu. Ibuku berpesan padaku “ jangan nakal, nanti masuk neraka”. Untuk anak sekecilku, pengertian surga-neraka masih sangat sulit kupahami. Sekarang? Akupun tak pernah mau berurusan dengan surga dan neraka. Hidupku bagiku adalah di dunia, bukan di surga atau neraka yang kata orang adalah perhentian terakhir manusia. Atau  justru sebaliknya, kehidupan yang sesungguhnya itu ada di surga. Entahlah!!

Bukan  aku tak peduli surga atau neraka. Yang lebih kupedulikan sekarang adalah hidupku di dunia saat ini. Bisakah aku tetap produktif? Bisakah aku berkontribusi dan bermanfaat untuk orang lain? Selama di dunia loh ya…bukan di surga.

Ibuku berkata, “ kalau mau masuk surga, jangan berbuat dosa” .Masih kuingat betul perkataannya. Jangan berbuat dosa, maka niscaya kamu masuk surga. Ah…itu hanya fatwaku, bukan dari ibuku, bukan pula dari ajaran agamaku atau agamamu. Itu adalah buah pemikiranku, sejak aku berumur 6 tahun, sekitar 26 tahun yang lalu.

Dosa, adalah hal yang paling menakutkan untuk dilakukan, terlebih untuk manusia suci seperti suamiku ini. Hariadi namanya. Kami sudah menikah lebih dari 7 tahun. Dia termasuk orang yang taat beragama , sabar dan jujur. Itulah kenapa aku lebih memilih Hariadi ketimbang Santoso. Keduanya pria baik dimataku, tapi kata Ibuku, Hariadi jauh lebih baik. Disaat memilih adalah keputusan yang sulit, maka Ibu adalah satu-satunya orang yang kupercaya untuk memberikan pilihan kepadaku.

Menjalani kehidupan rumah tangga dengan suami yang baik seperti Hariadi itu kurang tantangan, menurutku. Semuanya datar dan ujungnya membosankan. Tanpa sepengetahuannya, dua tahun ini aku berselingkuh dengan Santoso, mantan pacar yang tak kunikahi. Dua tahun menjalani hubungan terlarang ini, Hariadi tak sedikitpun curiga kepadaku. Semuanya baik-baik saja. Hingga suatu hari, saat aku pulang dari rumah orang tuaku di Solo, aku terkejut mendapati Hariadi dan Santoso sedang berduaan di rumahku, tepatnya di peraduanku. Tempat paling intim bagiku dan Hariadi.

Meskipun Hariadi termasuk pria yang taat beragama, sabar dan jujur, dimataku dia adalah pria yang menjijikan. Dengan segala kebaikannya yang dia pernah lakukan kepadaku, hal inilah yang paling menjijikan di mataku. Bagaimana tidak, orang yang selama ini kuanggap paling suci dan takut berbuat dosa, justru sedang berbuat zina didepan mataku. Dengan selingkuhanku??

Gila!!

“Apa-apaan ini!! Pergi kamu dari rumahku!!” teriaku pada Santoso

Ia pergi meninggalkan aku dan Hariadi. Mengambil kemeja yang jatuh disudut kamar tidurku.

“Maafkan aku Nik, aku khilaf…” kata Hariadi .

“Persetan!! Aku tak peduli…..ceraikan aku saat ini juga!!” aku mengambil travel bag diatas lemari, berniat pergi meninggalkan rumah ini secepatnya. Aku jijik dan tak sudi tidur di ranjang ini lagi.

**

“Aku tak bermaksud seperti itu Nik, dengar dulu ceritaku” kata Hariadi malam itu. Dia datang mengunjungiku setelah seminggu lebih aku tak berkomunikasi dengannya. Yang kuingat hanya perbuatannya dengan Santoso kala itu.

Kutolehkan wajahku, menjauhi pandangan matanya yang memohon belas kasihan dariku. Tanpa mendapatkan ijin dariku, iapun bercerita kronologis kejadian yang menusuk hatiku.

“Aku tahu perselingkuhanmu dengan Santoso” kata Hariadi. Terkejut aku mendengar pengakuannya, tapi tetap kukuasai diriku untuk tetap mendengarkan ceritanya.

“Diamku bukan berarti aku menyetujui perselingkuhamu itu, Nik. Aku diam karena aku ingin berbuat sesuatu untukmu. Melepasmu dari lingkaran setan ini. Beberapa kali aku menghubungi Santoso. Bukan niat baik yang kudapatkan tapi malah ancaman akan membeberkan perselingkuhan ini ke orang-orang. Demi menjaga nama baikmu dan keluarga kita, aku mencoba membujuk  Santoso untuk menjauhimu. Bukannya terbujuk, malah aku yang dirayu-nya. Dia akan meninggalkanmu bila aku mau bersetubuh dengannya. Maka, saat kamu pulang ke Solo , aku mengiyakan tawaran Santoso. Hari itu aku bersetubuh dengannya, dengan harapan dia akan meninggalkanmu selamanya. Dan kita bahagia dengan pernikahan kita, Nik” kata Hariadi sambil mencoba menyentuh lenganku. Aku shock mendengar pengakuannya. Bagiku, ini terlalu rumit untuk dipikirkan

Aku pergi menjauhi Hariadi, berlari meninggalkannya sekaligus lari dari kenyataan bahwa sesungguhnya Hariadi mencintaiku melebihi cintaku pada Santoso.

Dan sekarang, aku tak tahu harus bagaimana lagi.

Dalam lamunanku malam itu, kembali aku teringat cerita ibuku tentang buah Khuldi. Akulah yang mengambil buah itu, tapi akibatnya? Hariadi ikut merasakan dosa dari buah yang kumakan.

Hariadi, maafkan aku.

** Cerita di atas hanya sekedar fiksi belaka, ditulis dalam rangka meramaikan Kontes Flashfiction Ambrosia yang diselenggarakan Dunia Pagi dan Lulabi Penghitam Langit.

Advertisements

17 Comments

Filed under CeritaCerita

17 responses to “Kenikmatan Cinta **

  1. hmmmm narsis,,,kirain percaya laki2 aja yg bunuh diri hehehe

  2. moga menang ya mbak. . .. .

  3. speechless.. ngebayangin tokoh wanitanya, entah harus merasa bersalah atau marah

  4. brilian…bermakna,…nice…

  5. ANDI

    BAGUS GUE SUKA MASUK AKAL

  6. yuliadewantoro

    Sangat menyentuh

  7. mungkin ini sebenarnya curhat…
    #ngawur #ngibrit :)))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s