Nonton Matah Ati

 

 

sumber : SoloPos

Senang rasanya bisa melihat secara langsung pertunjukan spektakuler yang belakangan hari ini dibicarakan orang.  Berawal dari pertengahan tahun 2011 lalu, pementasan Matah Ati perdana di Singapura sudah ramai dibicarakan masyarakat Indonesia. Pertunjukan yang konon pada awalnya tidak mendapatkan sponsor dalam negeri ini  akhirnya harus mengawali roadshow pertunjukannya di Singapura. Dilanjut dengan beberapa negara yang juga mengapresiasi drama tari kolosal yang disutradarai oleh Atilah Soeryadjaya yang merupakan cucu dari keluarga bangsawan Mangkunegaran.

Matah ati adalah salah satu karya yang bisa dibilang membawa angina segar seni pertunjukan di Indonesia. Bahwa kesenian tradisional apabila dikemas dengan tata panggung dan tata lampu yang mewah maka tidak terlihat “murahan” dan “jadul” . Buat saya, yang notabene adalah awam dengan sejarah Mangkunegaran (cerita dari Matah Ati) cukup bisa menikmati pertunjukan yang semalam saya tonton.

sumber : SoloPos

Memang keinginan dari Atilah Soeryadjaya yang ingin membawa Matah Ati ini pulang kampung. Dan cita-citanya cukup mendapat respon positif pula dari Pemerintah Kota Solo yang juga membagikan 4000 tiket gratis kepada warganya.

Awal pementasannya di Singapura, Atilah hanya memakai kurang lebih 50 orang penari. Tapi untuk merayakan “kepulangan” Matah Ati maka tak lebih dari 250an penari terlibat dalam pertunjukan ini. Selain pemain inti yang sudah ikut mementaskan Matah Ati, diambil pula beberapa penari lokal terutama dari ISI Surakarta.

sumber : kabar24.com

Saya sendiri melihat pertama kali pertunjukan ini di Youtube tahun lalu. Kesuksesannya di Singapura terabadikan di Youtube dan langsung mendapat respon yang positif. Bahkan beberapa negara dan kota di Indonesia menginginkan pementasan Matah Ati ini. Video yang saya lihat di Youtube kala itu saja sudah membuat saya tercengang. Apalagi yang live dan lebih banyak melibatkan penari. Saya akan double tercengangnya.

Berlatar bangunan Istana Mangkunegaran, Matah Ati ini digelar dialam terbuka dengan panggung yang juga lebih lebar dan lebih besar 3kali lipat dari pertunjukannya di Singapura. Sungguh-sungguh sangat kolosal. Koreografinya membuat saya berdecak kagum. Tata lampu dan efek yang spektakuler mendukung apik-nya pertunjukan Matah Ati malam itu. Mulai dari kembang api dan settingan kobaran api yang bener-bener menggunakan api *yaa iyaaalah, masa api boongan* membuat saya kembali kagum dengan Jay Subiakto.

Matah ati sendiri adalah kisah asmara Pangeran Sambernyawa atau Raden Mas Said dengan Rubiyah yang kemudian namanya berganti menjadi Matah Ati. Berlatar sejarah abad ke 18 dibungkus dengan romantisme dan nilai-nilai spiritual, drama tari Matah Ati yang saya lihat semalam memang terlalu indah untuk dilupakan.

Tak hanya tarian yang disuguhkan, drama kocak Mbok Blemben dengan teman-temannya juga menambah keriuhan penonton malam itu. Dengan sindiran sosial yang cukup menggelitik, bisa membuat penonton tertawa.

Menariknya lagi, alunan gamelan dan suara sinden yang merupakan bagian dari pertunjukan Matah Ati kali inipun cukup bisa membuat saya kagum. Luar Biasa!!

Dua kata singkat yang cukup mewakili perasaan saya malam itu.

Bagaimana sejarah bisa dibalut sedemikian rupa menjadi sebuah karya drama tari kolosal yang bisa saya saksikan langsung secara gratis. Hanya bermodal IDcard dari panitia bertuliskan PRES

Berdiri selama 2 jam memang membuat kaki pegal. Untung saya bawa sandal jepit.Sebab kalo enggak, waah..bisa mati rasa kaki saya ini. Padahal dari pagi saya dandan rapi kantoran. Jadi ceritanya sebelum ke Solo itu saya lagi nemenin tim off air acara roadshow di salah satu sekolah di Klaten. Dan berdiri diantara temen-temen wartawan lainnya juga menarik. Apalagi dengan deretan kamera dengan lensa panjang berjejer disebelah saya. Setiap ada adegan yang menarik, langsung saja bunyi kamera serentak terdengar di telinga saya.

Menyenangkan. Meski tubuh ini lelah tapi karena senang rasa lelah itu tiba-tiba lenyap.

Saya mengapresiasi semuanya yang terlibat secara langsung diacara Matah Ati di Solo kemaren. Salut juga dengan warga Solo yang antri dengan tertib. Padahal ketika kami datang dan akan masuk ke gate khusus VIP dan pers, mereka antri cukup panjang. Ada mungkin 1 kilo antriannya. Tapi, tanpa adanya barikade atau plang pembatas, mereka dengan sadar antri dengan rapi. Salut deh pokoknya

Sekali lagi, saya kagum dan menikmati pertunjukan Matah Ati semalam.

Semoga kedepannya, akan ada lagi pertunjukan seni yang lain dan mendapatkan apresiasi dari masyarakat Indonesia.

Sedih soalnya, seni tradisional yang hampir punah ini kalo tidak dilestarikan sebagai warisan budaya Indonesia. Jangan sampai juga, seni tradisional negeri sendiri mendapat cap buruk dari warganya. Oooh..apalagi dari Gubernurnya.

Iiiiiih……gemes deh sama Gubernur Jateng yang bilang kalo kesenian jathilan itu kesenian paling jelek sedunia. Di forum internasional pula. Gimana gak gemes siiiih…

Ahya sudahlah, pokoknya saya dan kita semua harus bisa mengapresiasi dan melestarikan budaya sendiri. Anak muda harus mau belajar sejarah, belajar menghargai karya anak bangsa dan gak usah malu dengan seni tradisional yang kita punya. Kita harus bangga.

Okey??

 

 

Rekomendasi artikel Matah Ati bisa dibaca disini dan disini

 

Advertisements

1 Comment

Filed under Tak Berkategori

One response to “Nonton Matah Ati

  1. senangnyaaaaaaaaa…………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s