Category Archives: Rumah Baca

cerita dibalik Rumah Baca Sunan Pathi di Pathen, Muntilan

Habis dari Rumah Baca

Senangnya bisa kembali ke rumahbaca 🙂 . Terakhir kesana kira-kira sebulan yang lalu-lah. Emang saya ngga bisa setiap saat ke rumahbaca, tapi bersyukur ada mas Dodo dan mas Tejo yang ngebantu buat memantau perkembangan rumah baca.
Niatnya karena saya itu mau memanfaatkan hak cuti saya sebagai karyawan. Rasa-rasanya, saya itu udah lama kerja tapi kok gak pernah cuti ya? yang ada ijin mulu. Kan sayang kalo gak dipake. So, tengah minggu kemaren, saya cuti. Rencana sih pengen liburan sama mas patjar, tapi ditunda dulu karena mas patjar lagi mo ada ujian dan kerjaan. Jadilah saya ke rumah baca sekaligus nengok dan ngasih uang titipan dari donatur. Rencanya uang itu nanti akan digunakan untuk nambah rak buku di rumah baca.
Hari itu (06/12) cuaca berawan. Dari Semarang sempet mendung. Rencana berangkat pagi terpaksa diundur soalnya mesti anter ibu berobat dulu. Jadilah saya berangkat agak siangan. Agak sedikit panik takut ga keburu naik Nusantara, eh, alhamdulilanya sampee Banyumanik ngepas masih ada bis dan langsung berangkat. Pasnya lagi, setelah masuk bis, ujan deres mengguyur kota Semarang. Emang yah, hidup pas-pasan itu enak 🙂 *hehehe*
Sampai Muntilan, saya dijemput sama Mas Tejo. Berhubung mas patjar belom bisa jemput *karena nyelesein rapat dulu*, saya dijemput trus mampir dulu ke Tlatah Bocah. Sowan dulu sama Pak Gun, yang rupanya tanggal 9-10 ini bakal ada acara di Tutup Ngisor. Satu dusun di Kecamatan Dukun juga. Tepatnya di wilayah Desa Sumber, Dukun Muntilan. Nama acaranya Suron Tutup Ngisor. Acara ini semacam tradisi dari petani setempat sebagai ucapan syukur atas suburnya tanah di lereng Gunung Merapi. Nantinya akan ada kesenian daerah setempat, misalnya Jathilan, Wayang Orang, dan kesenian lain dari dusun-dusun sekitar.
Selepas dari sekretariat Tlatah Bocah, saya dan rombongan (baca: mas patjar, mas tejo dan mas dodo) mesti belanja dulu. Maklum, sudah hampir maghrib. Waktunya buka puasa tinggal menunggu azan #halah. Buncis, tempe, cabe, bawang merah, bawang putih, salam laos, gula, kopi, teh, dan beras plus jangan lupa, kerupuk-nya juga. *hehehe* Masak seadanya saja. Kalo lapar, apa-apa itu jadi enak.
Habis makan, disambi ngobrol, disambi ngeteh, ngopi, disambi nemenin adek-adek belajar bareng, lanjut dah kita pengurus pada ngobrol. Cerita sana sini seputar rumah baca. Cerita soal belajar bersama yang sudah berlangsung 4 kali dan disambut luar biasa , pengurus yang semangat ngajarin adek-adeknya, rencana akan ada mahasiswa kkn yang akan praktek di rumah baca, sampai cerita soal Asep yang curhat soal mantan pacar . Saya sih ngga kuat lama ngobrolnya. Ngantuuuuk bro. Cuman betah sampe jam 1an lah. Yang lain, pada lanjut sampe jam 4 pagi katanya. Ngobrolin sejarah dan lain-lain.

Tidak banyak yang bisa saya lakukan hari itu, karena hari itu bukan weekend, jadi banyak yang masih sekolah. Jadi saya cuman maen-maen sama Hafids. Anak tetangga yang “criwis”nya minta ampun *hehehe*. Dari pertama dateng, ambil buku, trus cerita sendiri, ngoceh sendiri. Dari buku soal Dinosaurus, Robot, Serangga sampai Majalah Kids dari Nat Geo juga dibaca sama dia. (dilihat-lihat gambar-nya sih lebih tepatnya). Hafids sendiri belum bisa baca. Masih umur 3,5tahun. Sudah lancar bicara, sudah pandai tanya. Ya namanya anak-anak. Penasaran sedikit langsung tanya. Aktif sekali. Saya sampai kewalahan. Dibantu Roto dan gantian sama Mas Tejo akhirnya. Tiap ada gambar apa ditunjuk “ini apa?” kok bisa?? ini apa?? kamu milih yang mana” dan seterusnya.
Capek ya sebenernya ngeladenin anak-anak yang aktif tanya. Eh tapi itu malah bagus loh. Anak-anak punya atensi/perhatian terhadap apa yang dia baca. Saya kewalahan, iya. Tapi saya sabaaaar *pake banget* nahan diri supaya tetap mendengarkan ocehannya. Sampai jam pulang sekolah tiba dan banyak anak-anak lain yang datang dan Hafids pun akhirnya ikut main bareng mereka.
Senang rasanya bisa ketemu sama anak-anak dan pengurus Rumah Baca. Alhamdulilah pengurus juga semangat. Saya juga jadi lebih semangat lagi. Mudah-mudahan bisa membawa pengurus jalan-jalan sedikit refreshing, atau mengajak anak-anak wisata belajar ke Gembiraloka ato ke Taman Pintar. Semoga
Untuk yang mau maen-maen ke rumah baca, sekedar numpang tidur atau kangen ngeliat sawah, atau pengen liat merapi, ato bosen ngrusin skripisi #eh, boleh loh dateng. Saya tunggu.
Doakan saya dan teman-teman relawan Rumah Baca juga ya, semoga kami terus punya semangat berbagi untuk anak-anak di Dusun Paten.
salam

Leave a comment

Filed under Rumah Baca

Alhamdulilah yah…

Dipostingan sebelumnya, saya pernah curhat ttg laporan kepada para *calon* donatur rumah baca, bahwasanya saat ini kami sedang membutuhkan dana untuk pembuatan rak buku dan kelanjutan biaya operasional (listrik dan sewa rumah). Meski untuk listrik sudah dibayar sampai bulan Desember 2011 ini dan untuk sewa rumah sampai bulan Juli 2012, tapi tetap saja, saya masih blom bisa benar-benar “tenang” . Pasalnya Desember itu kurang lebih tinggal 5hari lagi 🙂

Sungguh saya merasakan dalam perkembangan Rumah Baca, campur tangan Allah bekerja luar biasa. Saya gak malu minta sama Allah. Beneran!! Allah itu Maha Mendengar doa kita . Doa-doa kita itu tidak pernah sia-sia di hadapan Allah. Andai Ia menjawab Tidak, bukan berarti Ia tidak mengasihi kita, tapi justru karena Ia mengasihi kita dan ingin memberikan yang terbaik buat kita. Jauh lebih baik dari yang kita pikir dan yang kita duga.
Saya nulis pagi ini karena saya tuh lagi seneng banget. Seperti anak kecil yang baru aja dibeliin maenan baru sama Ayah-Ibunya. Gimana enggak, kemaren pagi, saya sembayang, doa sama Allah minta rizki buat bikin rak buku. Alhamdulilahnya, sorenya saya dapet kabar kalo mau ada yang transfer utk rumah baca. Cukup emang?? kata saya dalam hati. Ah…saya mah percaya saja, nanti Allah cukupkan. Allah kalo sudah janji pasti ditepati.

Leave a comment

Filed under LiFe, Rumah Baca

Memilih buku sesuai dengan usia anak


Memilih buku sesuai dengan usia anak #bacabuku

(ini adalah kumpulan twitter yang saya tulis untuk @idceritasmg)

psikologi pendidikan, Charles Buhler mengatakan bahwa anak hidup dalam alam khayal. #bacabuku

Anak-anak menyukai hal-hal yang fantastis, aneh, yang membuat imajinasinya “menari-nari” #bacabuku

Bagi anak-anak, hal-hal yang menarik, berbeda pada setiap tingkat usia, termasuk untuk buku2 yg dibacanya #bacabuku

Memilih buku untuk anak memang tidak mudah #bacabuku

Sebagai ortu, kita sebaiknya tahu karakter dan minat anak2 supaya tidak salah memilih bacaan #bacabuku

Hargailah pilihan anak saat ia memilih bacaan mereka #bacabuku

Mintalah anak untuk memilih buku yang ia sukai #bacabuku

Pilihlah buku yang sesuai dengan umur anak #bacabuku

Usia bayi hingga balita, anak lebih tertarik pada gambar drpd tulisan #bacabuku

Sampai usia dua tahun, pola pikir anak berorientasi pada hal2 yang ia rasakan melalui indera peraba #bacabuku

Pilih buku dr bahan tebal, warna cerah ceria, dan gambar yg sederhana #bacabuku

Anak usia smp 2th juga suka fitur interaktif, mis buku dgn pop-up atau jendela di halamannya #bacabuku

Tema bacaannya ttg kegiatan sehari-hari, atau jg bisa dasar utk berlatih melafalkan kata #bacabuku

Utk usia pra sekolah, usia 3-4th, anak mulai bs menikmati buku cerita. #bacabuku

Imajinasi mereka mulai berkembang, maka buku cerita bertema fantasi cocok utk mereka #bacabuku

Buku aktivitas dgn kegiatan merangkai kata dan hitungan bs menjadi pilihan #bacabuku

Buku non fiksi juga bisa jd pilihan, temanya sesuai dgn yang mereka sukai #bacabuku

Ajak anak membaca bersama smbl bercerita ttg isi buku tersebut #bacabuku

Usia sekolah, biasanya suka dgn buku pilihannya sendiri. #bacabuku

Anak2 usia sekolah akan memilih buku dengan berbagai macam genre #bacabuku

Tema-tema baru ia akan eksplore utk mencari ketertarikan pada subjek baru. #bacabuku

Seringkali ortu memaksa anak utk mengubah minat pada genre yg telah ia pilih #bacabuku

Akibatnya justru akan melunturkan minat baca mereka #bacabuku

Tetap ajak anak utk berdiskusi mengenai isi buku, baik itu tema atau tokoh dan jalan ceritanya #bacabuku

Ketika anak bisa memilih sendiri buku yang ia sukai, jangan lupa utk membacanya terlebih dahulu sebelum di baca oleh anak #bacabuku

Selain utk menyaring isi buku, kita jg dpt mempelajarinya dan membantu mrk saat mereka bertanya mengenai isi ceritanya #bacabuku

Saat membeli , selain gambar yang menarik, perhatikan jalan ceritanya #bacabuku

Tetap memperhatikan kualitas isi bacaan anak-anak kita #bacabuku

Leave a comment

Filed under Rumah Baca

oleh oleh dari Rumah Baca

Setelah sekian lama saya absen ke rumah baca, akhirnya saya kembali menghirup udara Dusun Paten , Sabtu lalu 🙂

Selalu bersemangat kalo mau ke rumah baca, padahal mendung loh. Tapi tetep aja hajar… 🙂
Cerita dimulai dari naik angkot dengan supir yang seperti pembalap gak kesampaian, sampai supir yang gayanya preman banget. Antara geli-geli gimana gitu, abis si supir ini gaya rambutnya jadul, ala tahun 80-an lah . Hm..gak sempet moto sih, tapi kurang lebih, penampakannya seperti ini :

Tepatnya adalah gambar no 12, tapi keriting padat ala Lionel Richie gitu deh. *eh, dibahas owk ya* hehehe
Ya sud, abaikan saja cerita supir angkot tadi. Saya mau share soal rumah baca ya 🙂 sebenernya sih cerita soal rumah baca , bisa dibaca disini , tapi kurang afdol kalo saya menulis dari sudut pandang saya #halah.
Jadi, sewaktu saya sampai di Dusun Paten, saya sudah disambut teriakan khas dari anak-anak sana. Mereka memanggil nama saya,…”mba olive..mba olive..” disana dan disini. Rame sekali. Senang mendengarnya, tapi sedikit terharu. Luar biasa sambutannya. Saya merasa dirindukan oleh mereka #eh, hehe
Sebelum sampai ke rumah baca, saya dan mas patjar sempet mampir belanja dulu. Karena bisa dipastikan, di rumah baca sudah tidak ada lagi beras, kopi, teh, gula dan lain-lain. Kalo dulu sih mungkin masih ada, soalnya ada Mbak Dwi dan Mba Susi *mahasiswi yg lagi KKN di Dusun Paten*, nah kalo sekarang, sepi….bahkan kamar belakang *gudang sih tepatnya*, udah gak ada kasur lagi 😦 Jadilah saya belanja keperluan 2hari untuk makan dan minum kami. Kenapa mesti belanja, hyaa iyalah….di dusun Paten jarang ada orang lewat jualan mie jawa, bakso, sate, dll. Boro2 yah ada yang mau jualan, mo naik sampe Dusun Paten aja jarang ada. 😦 jadi selain mie instant, amannya ya masak.
Nah, selain sambutan anak-anak yang super hore itu, setiap kali.. catet, setiap kali ketemu sama warga, selalu disapa senyum sambil di sapa “monggo…pinarak rumiyen” (baca: silahkan..yuk mampir). Setiap kali…se-ti-ap kali. Ramah-ramah kan? *heheeh*

inilah sudut favorit sayah, tempat saya masak untuk semuanya

*maaf berantakan*, ini adalah posisi kami biasa ngobrol
terlihat kardus berisi buku yang belom dibuka karena kami butuh rak buku lagi
Hari itu saya dan pengurus ngobrol ini dan itu. Saya pengen menyemangati mereka *para pengurus* untuk lebih semangat mengembangkan rumah baca ini. Saya secara pribadi berterima kasih kepada mereka, karena mereka mau meluangkan waktunya untuk rumah baca. Saya katakan ke mereka, bahwa apa yang dilakukan pengurus rumah baca ini untuk kebaikan
bersama warga Dusun, terutama untuk anak-anak. Senang rasanya mendengar kalo mereka menjadi pintar dan tau banyak informasi karena mereka membaca di rumah baca. Jadi pasti ada manfaatnya.
Saya juga bersyukur, sudah hampir 9bulan lebih saya dan teman-teman lainnya (Dodo, Tejo, Budi, Joko, Patub) mendirikan rumah baca ini. Senang rasanya kalau rumah baca ini sekarang punya lebih dari 1000buku yang variaatif jenisnya, sumbangan dari para donatur. Senang rasanya rumah baca beroperasi secara rutin, meskipun tidak setiap hari tapi saya mengamati dari buku absen dan buku peminjaman setidaknya lebih dari 10orang datang ke rumah baca setiap kali bukanya. Senang rasanya kalau mulai ada anak-anak generasi baru yang mulai “care” dengan rumah baca dan saya melirik mereka untuk dipersiapkan menjadi penerus pengurus berikutnya.
Senang rasanya saya mendengar Asep bercerita ttg keinginannya mengadakan kegiatan belajar bersama untuk anak2 SD. Berarti Asep *salah satu pengurus* sudah mulai aware dengan kondisi adik2nya yang butuh bimbingan belajar supaya tingkat ketidaklulusan di dusun Paten bisa diperkecil. Namun sayangnya, tidak banyak SDM yang bisa mendampingi anak-anak belajar bersama. Jadi, kegiatan ini sepertinya harus dipending dulu.
Senang rasanya mendengar Ummi, *salah satu pengurus* mau meluangkan waktunya di hari Minggu untuk mengajari adik2nya belajar bahasa Inggris.
satu rak yang sudah penuh – depan belakang
Hari itu juga saya melihat sendiri banyaknya buku-buku yang ada. Senang!! Tapi rupanya beberapa buku bantuan dari donatur ada yang belum dibuka kardusnya, karena tempat sudah tidak ada lagi.
Kami memang butuh rak buku lagi. Saya hitung ada sekitar 4 kardus yang belum dibuka. Sedih rasanya 😦
Tapi, saya yakinkan ke pengurus semoga dalam waktu dekat ini kita bisa buat rak buku lagi. 🙂
Makanya saya berkeluh pada @Tuhan, agar diberikan rak buku lagi 🙂
Alhamdulilahnya, untuk sewa rumah sudah terbayarkan sampai bulan Juli 2012, listrik juga sudah dibayar sampai Desember 2011 ini.

Saya percaya @Tuhan ikut memelihara rumah baca, sebab dari dulu awal berdirinya rumah baca, kami sama sekali gak punya uang untuk beli ini dan itu. Tapi alhamudlilah, @Tuhan menyediakan. Jadi, untuk kali ini, saya juga percaya, pasti @Tuhan akan sediakan 🙂

Leave a comment

Filed under Rumah Baca

kangen anak-anak

sungguh saya merindukan mereka.
duduk membacakan cerita untuk mereka,
atau membantu mereka mengerjakan pr,
saya merindukan berisiknya mereka memanggil nama saya
saya meridukan tawa dan tangis mereka
saya rindu suasana dinginya dusun paten
saya rindu merapi
saya rindu anak-anak rumah baca

Leave a comment

Filed under Rumah Baca

#merapi

Ini adalah penampakan #merapi hari Sabtu lalu , ketika saya berkunjung ke Dusun Paten untuk ikut ambil bagian di acara #17an #rumahbaca.

Merapi terlihat jelas sekali. Karena sore itu tidak berkabut dan masih cukup panas. Jelas terlihat merapi sangat kering dan gersang.
Seperti tumpukan pasir yang ada di Muntilan (bantaran kali putih), tapi ini jauuuuh lebih besar *hyyaaa iyaalah*
Ini adalah kunjungan pertama saya sejak sebulan lalu saya masih disibukan dengan urusan ultah kantor. Dan inia dalah kunjungan saya dibulan puasa :).
Bulan Agustus ini di rumah baca sendiri ada beberapa kegiatan. Akhirnya, sampe juga ke bulan Agustus ya…soalnya rencana kegiatan udah diobrolin sebulan sebelumnya. Dan saya sempat “mengeluh” karena saya butuh suport dana untuk program2 tersebut. Thanks God-nya, acara #17an ini bisa berjalan lancar didukung sama temen2 pengurus #rumahbaca yang juga semangat. Dan saya juga tidak perlu terlalu kuatir, karena pasti Tuhan menyediakan rejekiNya untuk anak2 #rumahbaca yang besok akan ngadain buka bersama.
gambar anak2 #rumahbaca sebelum ikutan lomba #17an

Leave a comment

Filed under Rumah Baca

Faith


Sungguh, saya tidak bermaksud mengeluh kepada Anda. Saya hanya ingin mengeluh kepada Tuhan dan memohon kepadaNya, sekiranya saya mendapatkan pertolongan dariNya.

Saya, sungguh membutuhkan bantuanNya. Sekiranya Tuhan memakai orang-orang disekitar saya untuk membantu saya.
Ini tentang #rumahbaca. Saya sungguh ingin mengadakan program ini dan itu demi anak-anak disana. Sungguh saya harus berpikir bagaimana saya mendapatkan dana untuk terlaksananya program. Tapi, saya-pun harus berpikir , bagaimana bila tidak ada dana akankah program terus berjalan?
Saya?? Sesungguhnya…buat saya bulan ini bulan yang “padat pengeluaran”.
Dan sejujurnya saya pusiiiing memikirkannya. Apalagi, barusan saya dapet sms soal tagihan listrik #rumahbaca. Dan sungguhpun saya tidak ingin mengeluh ya Allah. Saya hanya bingung memikirkannya.
Dan, baiklah…..
Saya bingung karena saya berpikir dengan cara pandang dan cara pikir saya sebagai manusia yang punya keterbatasan. Dan (mungkin), saya bingung karena iman saya sedang lemah saat ini.
Seharusnya , disaat saya sedang bingung memikirkan semua ini, iman saya semakin dikuatkan. Bahwasanya mengandalkan diri sendiri bukannya langkah yang tepat. Bahwasanya mengandalkan Tuhan Yang Maha Kaya adalah tepat.
Dan bahwasanya iman itu akan mati tanpa perbuatan. Lalu bagaimana seharusnya??
Tetaplah memberi. Terlebih ketika memberi pada saat kekurangan. Karena itu adalah pemberian terbesar.
Lain cerita kalau memberi pada saat berlebihan. Meaningless.
Sesungguhnya, aku hanya beriman kepadaMu
Tuhan, Engkau yang melihat hatiku

Leave a comment

Filed under Rumah Baca